Blitar, Memo.co.id
Menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Blitar kembali menuai polemik. Terbaru menu sayur nangka atau biasa dikenal sebagai “jangan tewel” memicu protes para wali murid penerima manfaat. Sontak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jalan WR Supratman, Kelurahan Bendogerit, Kecamatan Sananwetan, Kota Blitar sebagai dapur penyedia pun ikut disorot.
Baca Juga: HPN 2026, PWI Blitar Raya Bahas Potensi Jeratan KUHP bagi Insan Pers
Para wali murid penerima manfaat geram lantaran SPPG tersebut menyajikan menu yang dinilai sangat minim gizi dan diduga jauh dari standar harga Badan Gizi Nasional (BGN) sebesar Rp 10 ribu per porsi.
Menu yang disajikan hanya terdiri dari satu porsi nasi, sayur nangka muda (tewel), satu butir telur, satu buah pisang kecil, dan satu kotak susu. Komposisi ini dinilai tidak sebanding dengan tujuan utama program, yakni pemenuhan gizi seimbang bagi anak-anak.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Blitar Endang Purwono melalui ahli gizinya menilai menu tersebut sangat miskin asupan protein dan serat, dua komponen penting dalam tumbuh kembang anak.
“Sangat kurang dari aspek asupan protein dan seratnya. Asupan protein otomatis hanya dari satu butir telur saja, itu jelas tidak mencukupi. Pemilihan sayur juga seharusnya yang tinggi serat dan vitamin, bukan sayur tewel,” tegas Endang.
Baca Juga: Safari Ramadan NasDem di Blitar, Saan Mustopa Serukan Persatuan di Pusara Bung Karno
Tak hanya soal menu, kondisi dapur SPPG juga memantik tanda tanya besar soal standar kebersihan dan kelayakan operasional. Hasil penelusuran, saat awak media mendatangi lokasi dapur, tumpukan sampah tampak menggunung di area depan. Bau amis menyengat langsung tercium begitu memasuki halaman dapur, menciptakan kesan lingkungan yang jauh dari kata higienis.












