Selama ini, seluruh biaya pengobatan, termasuk kontrol rutin bulanan di rumah sakit, bergantung penuh pada fasilitas BPJS Kesehatan.
“Jadi setiap bulannya tetap kontrol ke rumah sakit. Dulu saya yang antar, sekarang diantar ibu saya,” cerita Desi, yang kini telah berumah tangga dan tinggal di Blitar.
Baca Juga: Kisah Mariana, Setia Meracik Kehangatan Tradisi di Tengah Himpitan Ekonomi dan Perubahan Selera
Meski demikian, keluarga Regina tak sedikit pun patah arang. Mereka terus memupuk semangat Regina, mendorongnya untuk terus berjuang, dan tak henti memanjatkan doa agar suatu hari nanti, cita-citanya dapat terwujud nyata.
“Semoga cita-citanya nanti bisa terkabul,” ucap Desi penuh harap, mewakili doa seluruh keluarga.
Baca Juga: Kisah Sukardi Yang Tak Kunjung Pulang, Usai Hilang di Tanah Suci, Ini Kata Keluarga di Malang
Sebuah Peringatan: Gaya Hidup Modern dan Ancaman Diabetes pada Anak
Kisah Regina juga membawa pesan penting bagi setiap orang tua. Desi merasa ini adalah momentum bagi semua pihak untuk lebih serius memperhatikan kesehatan anak-anak, terutama terkait makanan dan minuman yang dikonsumsi setiap hari. Ia menyoroti bahaya makanan dan minuman instan yang kini begitu mudah dijumpai.
“Jadi supaya cukup kami yang mengalaminya. Supaya orang-orang lain lebih peduli dan mengawasi anak-anaknya,” tegas Desi.
Baca Juga: Dari Keterbatasan Menuju Kampus Impian, Kisah Perjalanan Sunyi Igbal Rasyid, Sang Calon Dokter
Ia menjelaskan bahwa kasus adiknya bukan semata karena faktor genetik, melainkan juga sangat dipengaruhi oleh gaya hidup, khususnya kebiasaan mengonsumsi minuman instan. “Kita di rumah mungkin sudah ketat mengawasinya, tapi bisa saja kecolongan di luar rumah,” tambahnya.
Mantan karyawan BPR ini juga berharap pemerintah dan seluruh elemen masyarakat dapat semakin gencar mensosialisasikan penyebab dan cara mencegah diabetes pada anak. “Semua pihak bisa saling bergotong royong menanganinya,” pungkas Desi, mengingatkan bahwa kesehatan anak adalah tanggung jawab bersama.












