
Hurria Alfisana
- Mahasiswi S1 Keperawatan
Universitas Muhammadiyah Malang
Bodoh. Sering kali kita dengar dari para orang dewasa dan bahkan anak-anak jika ada salah seorang anak yang tidak bisa membaca ataupun lambat dalam mengerti dalam suatu pelajaran mereka akan mengatakan pada anak itu “anak bodoh”. Tanpa mengerti bagaimana alasan mengapa mereka tidak cepat mengerti dalam suatu pelajran banyak orang yang akan sudah men judge, yang dapat membuat anak menajadi rendah diri.
Pengetahuan yang minim tentang anak psikis dan psikologis anak terkadang membuat orang berpikiran sempit sehingga langsung men-cap anak jelek. Padahal setiap permasalahan anak yang dialami bisa jadi tanda-tanda anak memiliki masalah pada dirinya yang perlu perhatian khusus dari orang tua sehingga dapat diatasi dari dini. Khususnya pada kasus anak yang tidak bisa membaca dan menulis serta susah untuk memahami suatu pelajaran pada umumnya.
Yaitu Disleksia adalah sebuah gangguan dalam perkembangan baca tulis yang umumnya terjadi pada anak yang berusia 7 sampai 8 tahun. Ditandai dengan kesulitan belajar membaca dengan lancar dan kesulitan dalam memahami meskipun normal atau di atas ratarata. Penderita disleksia ini tidak terlihat seperti anak yang berkebutuhan langsung dan seperti anak normal biasa hanya otak pada anak disleksia tidak dapat berfungsi dengan normal. Dengan terapi dini yang dilakukan dan bertahap dapat membantu mereka dalam sisi psikologis dan fisik.
Seperti anak dari bangsa Indonesia, Aqil Prabowo (13). Dia adalah pelukis muda yang bernaung di bawah komunitas Do Art. Dan pada tahun 2014 lalu menggelar pameran tunggal di hutan Pinus Sentul, Gunung Pancar, Bogor. Dalam pameran itu orang-orang harus berjalan santai untuk dapat melihat pameran dari bocah yang positif didiagnosis mengami disleksia pada usia 8 tahun itu. Namun, dengan kecakapan dari orangtuanya yang berusaha memberikan terapi, Aqil dengan cemerlang mendapatkan solusi bagaimana ia menyampaikan pesan pada kawan-kawannya.












