Example floating
Example floating
NGANJUK

Balita Di Nganjuk Bernasib Buruk, Pasca Imunisasi Di Pustu Mengalami Lumpuh Layu

Mulyadi Memo
×

Balita Di Nganjuk Bernasib Buruk, Pasca Imunisasi Di Pustu Mengalami Lumpuh Layu

Sebarkan artikel ini

NGANJUK, MEMO – Dunia kesehatan di Kabupaten Nganjuk kembali tercoreng. Itu setelah tersiar kabar ada salah satu balita berinisial RA warga di salah satu desa di wilayah Kecamatan Baron mengalami lumpuh layu setelah menjalani imunisasi jenis vaksin DPT – HB – HB 1.

RA balita yang baru berumur satu tahun ini menjalani layanan imunisasi di Pustu setempat sejak tanggal 18/02/2025 silam. Awal kejadian yang menimpa RA menurut pengakuan FT ( ibu kandung balita ) dua hari setelah disuntik vaksin DPT- HB- HB 1 mengalami indikasi suhu tubuh tinggi disertai lemas pada kaki kanannya.

Baca Juga: Tragedi Wanita Muda di Ngronggot Nganjuk Ditemukan Meninggal Dunia di Area Belakang Rumah

” Awalnya saya tidak curiga apa apa dan saya anggap wajar, tapi di hari hari berikutnya saya kaget anak saya kok malah tidak bisa jalan,” keluh FT.

Baca Juga: Sosialisasi Bisu, Warga Dawuhan Stop Pengurukan Lahan Milik PT MAS, Tante Yulma Desak Daerah Ojo Turu Wae

Padahal sebelum di vaksin masih kata FT kondisi fisik RA baik baik saja. Bisa berjalan meskipun pelan. Tapi begitu disuntik vaksin spontan tidak bisa jalan.

Baca Juga: Harisun : BULOG Siap Bayar GKP Petani Tepat Waktu, Asal Laporan Tidak Dadakan

Dengan kondisi itu, RA putra bungsu dari empat bersaudara ini sempat mendapat perawatan intensif di PKM Baron dan RSUD Kertosono demi kesembuhan RA.

Namun harapan FT kandas. Karena penanganan di PKM Baron dan RSUD Kertosono tidak membuahkan hasil. Akhirnya dirujuk ke RSUD dr.Soetomo Surabaya . Sampai berita ini ditulis, sudah dua kali RA menjalani rawat jalan di RSD dr.Soetomo.

” Rawat jalan di rumah sakit dr. Soetomo dianjurkan satu bulan empat kali. Tapi saya memilih kontrol satu bulan sekali,” tutur FT.

Pertimbanganya masih kata FT karena terbentur biaya. Sekali perjalanan ke Surabaya biayanya Rp 200 ribu.

” Kalau kontrol satu bulan empat kali gak mampu biayanya. Itupun saya ke surabaya naik motor,” aku FT .

Ditanya harapannya lebih jauh disampaikan FT memohon kepada bidan desa agar tidak sembrono. Jangan sampai terjadi kasus seperti yang menimpa anaknya.

Sementara itu ditempat terpisah dengan kejadian ini ditanggapi oleh Kepala Puskesmas Baron Kecamatan Baron dr.Made menjelaskan lazimnya reaksi vaksin DPT balita mengalami suhu badan panas maksimal satu Minggu.

” Kalau sampai terjadi dampak serius seperti itu berarti dimungkinkan kekebalan imun balita rendah,” sanggah dr Made saat dihubungi lewat nomor WhatsApp nya hari ini ( Jumat,16/05/2025). ( Adi )