Tren penurunan penerimaan cukai di pertengahan tahun 2023 menjadi sorotan utama dalam APBN. Khususnya, sektor rokok sebagai penyumbang terbesar penerimaan cukai mengalami pelemahan yang signifikan.
Analisis data menunjukkan bahwa penerimaan cukai hasil tembakau (CHT) dan cukai etil alkohol (EA) mengalami penurunan, yang dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti turunnya pemesanan pita cukai dan kebijakan fasilitas pembebasan cukai.
Artikel ini akan membahas secara lebih rinci kinerja penerimaan CHT dan EA, serta dampaknya terhadap ekonomi dan perubahan kebijakan perpajakan. Perlu adanya langkah strategis untuk mengatasi tantangan ini dan menjaga stabilitas penerimaan cukai guna mendukung fiskal negara.
Kinerja Cukai Hasil Tembakau (CHT) Menurun: Kenapa Terjadi?
Penerimaan cukai mulai mengalami penurunan pada pertengahan tahun 2023, terutama dari sektor rokok yang selama ini menjadi kontributor terbesar bagi kas negara.
Mengutip buku APBN Kita pada Kamis (27/7/2023), penerimaan dari cukai mencapai Rp105,91 triliun atau 43,15 persen dari target yang telah ditetapkan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).
Kinerja penerimaan ini menunjukkan pelemahan dengan penurunan sebesar 12,20 persen dibanding tahun sebelumnya. Penurunan penerimaan cukai terjadi pada hasil tembakau, etil alkohol, dan cukai lainnya.
Penerimaan dari Cukai Hasil Tembakau (CHT) mengalami penurunan sebesar 12,61 persen dibanding tahun sebelumnya, menjadi Rp102,38 triliun atau 43,15 persen dari target.
Penurunan ini disebabkan oleh turunnya pemesanan pita cukai dan rendahnya produksi pada bulan Maret, diikuti dengan produksi April yang relatif stagnan. Penurunan produksi pada Maret 2023 dipengaruhi oleh lonjakan produksi pada Maret 2022 karena antisipasi kenaikan PPN.
Produksi hasil tembakau hingga bulan April juga mengalami penurunan sebesar 15,75 persen dibanding tahun sebelumnya, terutama pada golongan 1 dan 2.
Tarif rata-rata tertimbang juga hanya naik sebesar 3,28 persen, lebih rendah dari kenaikan normatif sebesar 10 persen, karena produksi Sigaret Kretek Mesin (SKM) dan Sigaret Putih Mesin (SPM) golongan 1 mengalami penurunan yang lebih dalam dibandingkan dengan jenis lainnya.
Strategi Menghadapi Tantangan Ekonomi dan Kebijakan Perpajakan di Tahun 2023
Selain itu, penurunan kinerja penerimaan CHT dipengaruhi oleh pola bulanan yang fluktuatif, terutama pada awal tahun. Meskipun penerimaan Cukai diharapkan dapat kembali tumbuh dengan peningkatan tarif CHT, produksi batang rokok tetap diperkirakan akan mengalami penurunan.
Hal ini sesuai dengan fungsi Cukai untuk membatasi peredaran barang tertentu. Berdasarkan pembahasan kebijakan tarif CHT tahun 2023, dengan rata-rata tertimbang kenaikan tarif CHT sebesar 10 persen, produksi sigaret pada tahun 2023 diproyeksikan akan tetap menurun.
Sementara itu, penerimaan dari Cukai Etil Alkohol mengalami peningkatan sebesar 1,56 persen dibanding tahun sebelumnya, mencapai Rp3,43 triliun, sehingga mencapai 39,53 persen dari target.
Kinerja ini dipengaruhi oleh peningkatan produksi dalam negeri untuk MMEA golongan A, serta peningkatan MMEA impor yaitu MMEA golongan B dan golongan C.
Namun, dari sisi Penerimaan Cukai Etil Alkohol (EA), kinerjanya justru mengalami penurunan sebesar 14,21 persen dibanding tahun sebelumnya, menjadi Rp0,06 triliun atau 40,45 persen dari target.
Hal ini disebabkan karena sebagian besar mendapatkan fasilitas pembebasan cukai untuk keperluan medis atau bahan baku barang yang tidak dikenai Cukai.
Meskipun begitu, jika dilihat dari nilai penerimaannya, kinerja Cukai EA masih berada pada pola normal. Sepanjang 2022, rata-rata penerimaan Cukai EA mencapai Rp0,01 triliun per bulan.
Perlu diingat bahwa kinerja penerimaan cukai secara keseluruhan perlu dipantau dengan baik, terutama dalam menghadapi tantangan ekonomi dan kebijakan perpajakan yang terus berubah dari waktu ke waktu.
Tren Penurunan Penerimaan Cukai di Tengah Tantangan Ekonomi: Analisis Hasil Tembakau dan Etil Alkohol
Dalam mengatasi tren penurunan penerimaan cukai, diperlukan langkah-langkah strategis yang mendukung pertumbuhan penerimaan tanpa mengorbankan aspek ekonomi dan kebijakan industri tertentu.
Peningkatan tarif CHT dan pengawasan yang lebih ketat terhadap produksi dan peredaran barang cukai mungkin menjadi salah satu solusi yang perlu dipertimbangkan.
Selain itu, perlu adanya langkah penguatan untuk mengatasi fluktuasi pola bulanan penerimaan CHT yang dapat mempengaruhi kinerja penerimaan pada awal tahun.
Upaya serupa juga perlu diterapkan pada penerimaan Cukai Etil Alkohol (EA) dengan tetap memperhatikan keseimbangan antara kebijakan fasilitas pembebasan cukai dan stabilitas penerimaan secara keseluruhan.
Dengan demikian, penerimaan cukai dapat terjaga dengan baik, dan APBN dapat lebih kuat dalam menghadapi dinamika ekonomi yang selalu berubah.
Akses Gratis tiap pekan, Majalah Memo digital, e-Book Memo dan e-Course Memo Talenta , via Group WA Klikdisini, atau TELEGRAM Klikdisini












