“Waktu direktur sebelumnya, rumah sakit dibuat kalang kabut. Oknum itu dipindah karena Pak Dir waktu itu tegas banget,” ungkap sumber internal.
Namun drama kembali dimainkan. Alat cuci darah diduga sengaja dirusak agar oknum tersebut kembali “dibutuhkan” dan akhirnya dikembalikan ke ruang hemodialisa.
Baca Juga: SPPG Tlumpu Disorot, Menu MBG di SMAN 1 Kota Blitar Dinilai Tak Layak, IPAL Bermasalah
“Drama itu berhasil. Tidak lama kemudian, penghisap darah pasien itu dikembalikan lagi,” tandasnya.
Pengakuan lain datang dari keluarga pasien yang mengaku tetap dimintai uang meski masih harus antre.
Baca Juga: Era Digital dan Tantangan Akurasi, Jairi Irawan Gelar Diskusi Bersama Jurnalis Blitar
“Saya disuruh bayar Rp3 juta, padahal masih harus antre. Kalau masih antre, buat apa bayar?” ujar salah satu keluarga pasien dengan nada heran dan kesal.
Menanti Sikap Wali Kota
Baca Juga: Retribusi atau Pungli? Jalur Perbatasan Blitar–Malang Disorot
Sumber internal rumah sakit pun meluapkan kegeramannya atas kondisi tersebut.
“Tinggal Pak Ibin tahu atau tidak. Kalau orang-orang seperti ini terus dibiarkan, RS Mardi Waluyo tinggal menunggu kehancuran,” tegasnya.
Sementara itu, saat dikonfirmasi memo.co.id, Ketua Dewan Pengawas RSUD Mardi Waluyo, DR. M. Zaenul Ichwan, S.H., M.H., tidak menampik bahwa pihaknya telah menerima informasi terkait dugaan tersebut.
“Karena saya masih baru, saat ini sebatas menggelar rapat kerja. Kami sudah mendengar isu itu. Ibaratnya seperti APH, kami melakukan evaluasi dan penyelidikan. Tentunya investigasi akan dilakukan secara menyeluruh,” jelasnya.
Ia menambahkan, pihak Dewan Pengawas akan memaksimalkan pelayanan kepada masyarakat melalui evaluasi SDM dan tata kelola rumah sakit.
“Kami akan mengaktifkan smart title, layanan berbasis digital elektronik. Bagaimana kemauan masyarakat, keluhan masyarakat seperti apa. Itu sebenarnya sudah kami gagas sejak 2009,” tandasnya.
memo.co.id akan terus menelusuri dugaan praktik pemerasan ini dan mengungkap siapa saja yang bermain di balik penderitaan pasien cuci darah.
Karena rumah sakit seharusnya menjadi tempat menyelamatkan nyawa bukan ladang bisnis berdarah.**












