Pakar nutrisi memberikan peringatan penting terkait risiko yang mengintai di balik kelezatan dan kepraktisan nasi goreng. Sebuah ancaman kesehatan bernama ‘Sindrom Nasi Goreng’ patut diwaspadai karena dampaknya bisa berakibat fatal.
Nasi goreng, hidangan yang sangat digemari di seantero Indonesia, memang menawarkan cita rasa yang menggoda dan kemudahan dalam penyajian. Bahan utamanya adalah nasi yang kemudian diracik dengan berbagai bumbu serta tambahan topping yang menambah kenikmatannya.
Baca Juga: Usai Lebaran, Berat Badan Melonjak? Masyarakat Diimbau Tingkatkan Kebugaran Demi Kesehatan Optimal
Pada dasarnya, beragam jenis nasi dapat diolah menjadi nasi goreng. Namun, nasi yang cenderung pera atau sisa nasi hari sebelumnya yang memiliki tekstur lebih kering justru dianggap memberikan hasil yang paling istimewa untuk hidangan ini.
Sayangnya, justru penggunaan nasi pera inilah yang menyimpan potensi bahaya ‘Sindrom Nasi Goreng’ atau yang dikenal juga dengan fried rice syndrome. Menurut laporan dari The Independent, sindrom ini merupakan jenis keracunan yang timbul akibat mengonsumsi makanan kering tertentu.
Baca Juga: Kunyit Bukan Sekadar Bumbu! Ini 5 Manfaat Dahsyat Air Kunyit yang Wajib Kamu Tahu
Dalam kondisi kering, bahan makanan seperti pasta dan nasi memiliki kecenderungan untuk mengandung bakteri Bacillus cereus. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) juga mencatat bahwa bakteri Bacillus cereus dapat menghasilkan racun apabila makanan yang terkandung di dalamnya dipanaskan dan didiamkan terlalu lama.
Kekhawatiran mengenai potensi keracunan makanan inilah yang mendorong para ahli gizi untuk memberikan penjelasan mengenai suhu penyimpanan makanan yang aman. Mereka menekankan pentingnya untuk tidak menyimpan sisa makanan sembarangan.
Baca Juga: Lebaran Bisa Bikin Sakit! Ini Tips Jaga Makan Biar Gak Kebablasan!
Ahli gizi, Kyndall Weir, menegaskan bahwa menyimpan sisa makanan di luar lemari es menciptakan lingkungan yang ideal bagi perkembangbiakan bakteri. Tragedi serupa pernah terjadi pada seorang remaja di Belgia.












