Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
TRENGGALEK

DPRD Desak Solusi Antrean Obat RSUD Soedomo Trenggalek Yang Membludak

Hamzah Abdilah
×

DPRD Desak Solusi Antrean Obat RSUD Soedomo Trenggalek Yang Membludak

Sebarkan artikel ini
Antrean obat RSUD Soedomo Trenggalek

TRENGGALEK, Memo – Fenomena antrean obat RSUD Soedomo Trenggalek yang terus mengular setiap hari akhirnya memicu reaksi keras dari kalangan dewan. Tingginya jumlah pasien rawat jalan yang menembus angka 800 orang per hari membuat pelayanan farmasi di rumah sakit tersebut tampak kewalahan.

Kondisi ini dianggap sangat krusial karena berpotensi besar menghambat masa pemulihan pasien. Mereka yang seharusnya bisa langsung beristirahat di rumah justru harus tertahan berjam-jam hanya untuk menunggu resep dokter diracik.

Baca Juga: Regulasi Baru DPRD Trenggalek Bidik Dukungan Untuk TPA dan TPQ Hingga Ke Akar Rumput Desa

Dampak Buruk Penumpukan Pasien Pada Layanan Farmasi

Sorotan tajam datang langsung dari Ketua Komisi IV DPRD Trenggalek, Sukarodin. Ia menilai manajemen rumah sakit harus segera mengambil tindakan taktis untuk mengurai penumpukan di area pengambilan obat tersebut.

“Jika dalam sehari pasien mencapai 800 orang, sudah pasti layanan apotek akan memicu antrean panjang. Fenomena inilah yang kini menjadi fokus perhatian serius kami,” ujar Sukarodin.

Baca Juga: Teror Pocong Di Trenggalek Polisi Ungkap Fakta Sebenarnya Demi Redam Kepanikan Massal

Sebagian besar pasien yang datang membutuhkan obat untuk segera dikonsumsi sesaat setelah pemeriksaan medis selesai dilakukan. Keterlambatan minum obat akibat lamanya waktu tunggu jelas merugikan masyarakat yang sedang menahan sakit.

“Jika pasien harus segera meminum obatnya tetapi proses antrean di apotek memakan waktu sangat lama, tentu ini menjadi persoalan serius. Pasien akhirnya terlambat mendapatkan penanganan obat,” tegasnya.

Baca Juga: Pembahasan APBD Trenggalek 2027 Genjot Pendapatan Asli Daerah Pasca Evaluasi LPJ

Layanan Antar Obat Dinilai Belum Maksimal

Pihak rumah sakit sebenarnya tidak tinggal diam dan sudah meluncurkan program pengiriman obat bekerja sama dengan jasa pos. Pasien hanya perlu merogoh kocek sekitar Rp10 ribu untuk ongkos kirim dan bisa langsung pulang ke rumah untuk menunggu obat diantar.

Sayangnya, program inovatif ini dianggap dewan belum mampu menuntaskan akar permasalahan di lapangan secara menyeluruh. Layanan pesan antar ini dinilai kurang cocok bagi pasien dengan kondisi darurat yang harus segera menenggak obat pada hari itu juga.