Memo.co.id – Konektivitas antarwilayah di Jawa Timur kini semakin kokoh dengan rampungnya proyek strategis yang menjadi tumpuan harapan ribuan warga di pelosok desa. Melalui prosesi khidmat, Gubernur Khofifah resmikan Jembatan Bubak Mojokerto simbol kebangkitan ekonomi warga guna mengakhiri penantian panjang masyarakat akan akses jalan yang layak dan aman. Infrastruktur yang dibangun dengan standar kualitas tinggi ini diproyeksikan tidak hanya sekadar menyambungkan dua daratan, melainkan menjadi pemicu utama pertumbuhan sektor perdagangan dan jasa di Mojokerto. Gubernur menekankan bahwa pembangunan fisik haruslah berdampak langsung pada isi dompet rakyat, di mana kelancaran transportasi logistik menjadi kunci utamanya. Dengan selesainya jembatan ini, tantangan geografis yang selama ini menghambat mobilitas warga kini telah teratasi oleh kemauan politik yang kuat demi kesejahteraan merata. Di tahun 2026 ini, keberadaan Jembatan Bubak menjadi bukti nyata komitmen pemerintah provinsi dalam memeratakan pembangunan hingga ke tingkat akar rumput tanpa terkecuali.
Transformasi Akses Transportasi dan Konektivitas di Wilayah Bubak
Membangun infrastruktur dari pinggiran adalah strategi jitu untuk memastikan keadilan sosial benar-benar dirasakan oleh masyarakat desa. Saat Gubernur Khofifah resmikan Jembatan Bubak Mojokerto simbol kebangkitan ekonomi warga, terlihat antusiasme yang luar biasa dari para petani yang kini tidak perlu lagi memutar jauh untuk menjual hasil panen ke pasar kota. Jembatan ini memiliki peran vital sebagai jalur pintas yang efisien, sehingga biaya operasional transportasi dapat ditekan serendah mungkin. Khofifah menyebut bahwa Jembatan Bubak adalah investasi jangka panjang untuk kemandirian ekonomi desa.
Proyek pembangunan jembatan ini merupakan respons cepat pemerintah terhadap aspirasi warga yang sering mengeluhkan sulitnya akses saat musim hujan tiba. Sebelumnya, jembatan lama dianggap membahayakan keselamatan karena struktur yang mulai lapuk dimakan usia. Dengan dana yang dikelola secara transparan oleh Dinas PU Bina Marga, jembatan baru ini kini berdiri dengan fondasi yang jauh lebih stabil dan desain yang modern. Khofifah mengingatkan agar masyarakat turut menjaga kebersihan dan tonase kendaraan yang melintas agar umur pakai jembatan bisa bertahan hingga puluhan tahun ke depan.
Selain aspek fungsional, Jembatan Bubak juga diharapkan menjadi daya tarik baru bagi potensi wisata lokal di Mojokerto. Pemandangan alam di sekitar jembatan yang asri memberikan peluang bagi warga untuk membuka unit usaha baru di sektor kuliner atau jasa lainnya. Pemerintah daerah diminta untuk segera melakukan branding dan penataan area sekitar agar nilai manfaat jembatan ini berlipat ganda. “Jembatan ini adalah milik rakyat, dirancang untuk rakyat, dan harus membawa kemakmuran bagi rakyat,” tegas Khofifah dalam pidato sambutannya yang disambut tepuk tangan meriah.
Integrasi pembangunan jalan penghubung juga akan terus dilanjutkan oleh Pemprov Jatim guna memastikan tidak ada “ujung jalan yang buntu”. Sinkronisasi antara infrastruktur pusat dan daerah menjadi fokus utama agar percepatan ekonomi nasional bisa dimulai dari desa-desa kecil seperti Bubak. Dengan diresmikannya fasilitas ini, potret kemiskinan akibat keterisolasian wilayah diharapkan perlahan memudar, digantikan oleh geliat ekonomi yang dinamis dan kompetitif di pasar Jawa Timur.












