Blitar, Memo.co.id
Aroma persoalan belum juga benar-benar hilang, namun Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Lingkungan Cepoko, Desa Klemunan, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar justru bersiap kembali beroperasi. Padahal, sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di dapur penyedia program Makan Bergizi Gratis (MBG) tersebut diduga tak sesuai standar.
Selama dua minggu terakhir, operasional SPPG dihentikan menyusul dugaan IPAL tak layak yang memicu keluhan warga soal limbah penuh dan meluber. Ironisnya, di tengah perbaikan yang baru saja dimulai, SPPG direncanakan kembali melayani lebih dari 2 ribu penerima manfaat mulai 23 Februari 2026.
Baca Juga: Pengawasan Diduga Longgar, Ketua SMSI Soroti Proses Penerbitan SLHS di Kabupaten Blitar
SPPG Cepoko diketahui telah beroperasi sejak 1 Desember 2025. Artinya, selama berbulan-bulan dapur tersebut berjalan tanpa sistem IPAL yang memenuhi standar dan tanpa Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Saat dikonfirmasi, Kepala SPPG Lingkungan Cepoko, Aprilia Nur Aisya, sempat enggan memberikan keterangan kepada awak media. Sikap tertutup itu memicu tanda tanya besar di tengah sorotan publik. Setelah beberapa saat, ia akhirnya bersedia memberikan pernyataan.
Baca Juga: BUMDes Bululawang Disorot, Dana Rp135 Juta Diduga Tak Jelas Realisasinya
Aprilia mengakui IPAL di dapur yang dipimpinnya memang belum memenuhi standar.
“Kami sudah merundingkan hal ini bersama mitra dan telah mengkonfirmasi situasi ini kepada pihak BGN. Terutama masalah IPAL yang belum memenuhi. Mitra pun juga berkomitmen untuk memperbaiki IPAL yang saat ini masih seperti itu kondisinya,” kata Aprilia, Rabu (18/2/2026).
Baca Juga: Jam Operasional Terbatas, Pedagang Grosir Wlingi Tuntut Pasar Khusus
Pernyataan tersebut justru mempertegas bahwa dapur penyedia program gizi untuk ribuan penerima manfaat itu telah beroperasi tanpa infrastruktur limbah yang layak.
Lebih jauh, ketika ditanya soal dugaan IPAL yang membludak hingga dikeluhkan warga, Aprilia terkesan menghindar. Ia mengklaim belum bisa memastikan adanya luapan limbah.
“Tidak sampai membludak juga, sebenarnya masih bisa tertampung dan teresap juga. Jadi kalau membludak, sebenarnya saya juga belum bisa memastikan,” ujarnya.
Namun, pernyataan itu berbanding terbalik dengan pengakuan pihak mitra. Zainal Mualifin, perwakilan mitra SPPG Cepoko, secara terbuka mengakui adanya luapan limbah.












