Blitar, memo.co.id
Suasana malam di Kedai Kopi Selasar, Pasar Legi, Senin (27/10) itu semula terasa hangat dan akrab. Gelas-gelas kopi mengepulkan aroma solidaritas, ketika sejumlah tokoh aktivis, akademisi, dan insan media duduk melingkar dalam acara Refleksi Sumpah Pemuda. Tak ada mimbar resmi, tak ada protokol. Hanya obrolan ngalor-ngidul tentang semangat persatuan yang pernah menyatukan bangsa ini.
Sebagai pemantik, hadir aktivis antikorupsi Moh. Trijanto, akademisi sekaligus aktivis senior Walid dari UGM Yogyakarta, dengan moderator dosen dan aktivis perempuan Henni Indarriyanti. Hadir pula sejumlah tokoh daerah: Ketua LSM GPI Jaka Prasetya, Ketua PPI Kabupaten Blitar Mujianto, Ketua KPU Kota Blitar Rangga Bisma, Ketua IJTI Korda Blitar Raya Robby Ridwan, dan Ketua SMSI Blitar Raya Prawoto Sadewo.
Baca Juga: Ratusan Warga 212 Datangi Kantor Kecamatan Rejotangan, Tuntut Perbaikan Jalan Rusak
Awalnya, diskusi mengalir ringan menelusuri kembali semangat tiga ikrar Sumpah Pemuda: satu tanah air, satu bangsa, satu bahasa. Namun suasana berubah begitu Wali Kota Blitar, Shahibul Muhibbin, muncul di tengah forum. Tak lama berselang, Wakil Wali Kota Blitar, Elim Tyu Samba, menyusul hadir.
Dua sosok pemimpin Kota Blitar yang belakangan ramai diperbincangkan karena hubungan kerja yang disebut “tidak harmonis” itu, untuk sesaat duduk satu meja. Udara di ruangan seketika menghangat bukan karena kopi, melainkan karena tensi diskusi yang mulai naik.
Baca Juga: IPAL di Dalam Dapur, MBG SPPG Jajar Sempat Diantar Pick Up Terbuka
Sekitar 40 menit, Wali Kota Muhibbin memaparkan makna Sumpah Pemuda sebagai fondasi kebersamaan dan semangat membangun. Namun giliran para aktivis berbicara, arah pembicaraan mulai tajam.
Aktivis Moh. Trijanto menyinggung soal kebijakan Pemkot yang dinilai tidak berpihak pada rakyat.
“Kegaduhan dan kondusifitas wilayah akibat sebuah kebijakan, ya Wali Kota Blitar yang harus bertanggung jawab,” tegasnya.
Suasana pun makin panas. Ketua SMSI Blitar Raya Prawoto Sadewo menyampaikan pandangannya dengan gaya khas, blak-blakan.












