MEMO – Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) menyampaikan peringatan serius mengenai dampak buruk yang ditimbulkan oleh kebijakan tarif perdagangan yang diterapkan oleh Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Menurut pandangan WTO, kebijakan proteksionisme ini tidak hanya akan dirasakan oleh kedua negara adidaya tersebut, melainkan juga akan memberikan efek domino yang meluas ke perekonomian negara-negara lain di seluruh dunia.
Direktur Jenderal WTO, Ngozi Okonjo-Iweala, memprediksi bahwa volume perdagangan antara Tiongkok dan AS berpotensi mengalami penurunan yang sangat drastis, bahkan hingga mencapai 80 persen. Hal ini merupakan konsekuensi langsung dari eskalasi tarif perdagangan yang terus meningkat.
“Ketegangan perdagangan yang terus meruncing antara Amerika Serikat dan Tiongkok menghadirkan risiko nyata terhadap penyusutan tajam dalam hubungan dagang bilateral. Proyeksi awal kami mengindikasikan bahwa perdagangan barang antara kedua negara ini dapat merosot hingga 80 persen,” ungkap Okonjo-Iweala dalam pernyataan resminya.
Lebih lanjut, ia juga memberikan peringatan mengenai dampak negatif yang akan dirasakan oleh perekonomian negara-negara lain. Menurut analisisnya, apabila dunia terpecah menjadi dua kubu ekonomi yang saling bersaing secara sengit, hal ini dapat mengakibatkan penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) global dalam jangka panjang hingga hampir mencapai 7 persen.
Baca Juga: Misteri Kematian Bocah di Sukabumi Dugaan Kekerasan Ibu Tiri Hingga Proses Hukum
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman untuk mengenakan tarif tambahan sebesar 50 persen terhadap produk-produk Tiongkok, di atas tarif timbal balik sebesar 34 persen yang telah berlaku. Langkah ini semakin memperburuk ketegangan yang sudah tinggi dalam kancah perang dagang global.
“Kemarin, Tiongkok memberlakukan Tarif Pembalasan sebesar 34 persen di atas tarif mereka yang sudah memecahkan rekor. Ditambah lagi dengan Tarif Non-Moneter, Subsidi Ilegal terhadap perusahaan-perusahaan mereka, dan Manipulasi Mata Uang jangka panjang yang sangat besar,” tulis Trump melalui akun media sosialnya pada hari Senin.
“Saya telah memperingatkan bahwa negara mana pun yang membalas Amerika Serikat dengan memberlakukan Tarif tambahan, di luar dan melampaui penyalahgunaan Tarif jangka panjang yang sudah ada terhadap negara kita, maka akan segera dikenakan tarif baru yang jauh lebih tinggi, lebih besar, dan melampaui tarif yang ditetapkan sebelumnya,” tegasnya.
Trump mengingatkan bahwa apabila Tiongkok tidak membatalkan kenaikan tarif sebesar 34 persen pada tanggal 8 April, maka ia akan memberlakukan tarif tambahan sebesar 50 persen terhadap negara tersebut. Kebijakan ini dijadwalkan mulai berlaku pada hari Rabu (9/3/2025). *(Catatan: Tanggal ini tampaknya salah ketik dan seharusnya April)*
“Selain itu, semua pembicaraan dengan Tiongkok terkait permintaan pertemuan mereka dengan kami akan dihentikan. Negosiasi dengan negara-negara lain, yang juga telah meminta pertemuan, akan segera dimulai,” ucap Trump dengan nada mengancam.
Pada hari Rabu sebelumnya, Trump mengumumkan pemberlakuan tarif timbal balik yang menyeluruh terhadap lebih dari 180 negara, dengan besaran tarif bervariasi mulai dari 10 persen hingga 50 persen. Sementara itu, Tiongkok dikenakan tarif sebesar 34 persen.
Sebagai respons, Tiongkok kemudian memberlakukan tarif tambahan sebesar 34 persen untuk semua impor yang berasal dari Amerika Serikat. Langkah ini secara luas dipandang sebagai tindakan balasan terhadap pungutan tarif yang diterapkan oleh Trump.












