Example floating
Example floating
Infobis

Banyak Anak Muda Melaut, Modal Bagi Nelayan Perlu Disiapkan

A. Daroini
×

Banyak Anak Muda Melaut, Modal Bagi Nelayan Perlu Disiapkan

Sebarkan artikel ini
Banyak Anak Muda Melaut, Modal Bagi Nelayan Perlu Disiapkan

Kegiatan usaha di masa pandemi Covid-19 telah masuk masa pemulihan. Namun, untuk bisa terus bertahan, pelaku usaha perlu memiliki modal dalam menjalankan bisnisnya.

Dalam hal ini, koperasi menjadi salah satu tempat peminjaman modal bagi para pelaku usaha. Seperti yang dilakukan oleh Koperasi Produsen Perikanan Laut (KPPL) Ngupaya Mina yang memberikan modal bagi nelayan di Indramayu, Jawa Barat.

Baca Juga: Sangat Dinanti Perajin Genting di Lamongan Berharap Kebijakan Gentengisasi Prabowo Hidupkan Industri Lokal yang Hampir Mati Suri

KPPL Ngupaya Mina yang telah berdiri sejak tahun 1968, terus mengalami perkembangan usaha. Saat ini, usahanya meliputi usaha pelelangan ikan, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN), dan merintis warung serba ada (Waserda) untuk perbekalan nelayan yang menjual sembako, peralatan mesin hingga jaring ikan.

Penata Usaha KPPL Ngupaya Mina, Suwendi (30) mengatakan bahwa anggota koperasi saat ini berjumlah 40 orang. Rata-rata anggota koperasinya ini memiliki profesi sebagai nelayan, termasuk anak muda juga mulai menggeluti pekerjaan ini.

Baca Juga: Pastikan Kesiapan Angkutan Lebaran 2026, Direktur Operasi KAI Lakukan Inspeksi Lintas di Wilayah Daop 7 Madiun

Ia pun menyampaikan siklus penangkapan ikan di wilayahnya ini terbagi dalam 3 sesi, yakni Januari-April yang merupakan peak season, Mei-Agustus mid season dan hingga akhir tahun adalah masa-masa low season.

“Ikan yang didapatkan bisa langsung dijual di Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) di PPI Dadap. Komoditi yang paling banyak ditangkap adalah ikan teri, tapi ada juga bawal, tongkol, dan kembung,” tutur Suwendi.

Baca Juga: Pastikan Kesiapan Angkutan Lebaran 2026, Dirjen Perkeretaapian Kemenhub Inspeksi Keselamatan dan Pelayanan di Wilayah Daop 7 Madiun

Rata-rata nelayan menggunakan sistem one day fishing, berangkat melaut jam 06.00 dan pulang jam 12.00. Hal ini dikarenakan belum ada cold storage untuk penyimpanan ikan.

“Koperasi juga belum punya drying oven untuk pengeringan ikan sehingga masih mengandalkan sinar matahari,” tambah dia