Teten mengungkapkan, selama pandemi pebisnis perempuan banyak mengalami kerugian. Dari 87 pengusaha UMKM perempuan, 90 persennya melaporkan membutuhkan pendanaan mendesak. Sementara 25 persen dari mereka juga kehilangan setengah dari pendapatannya. Serta, 2 dari 3 usaha yang dijalankan perempuan terpaksa tutup sementara atau permanen.
Teten menambahkan, terdapat sejumlah tantangan agar UMKM perempuan dapat bertahan menghadapi pandemi. Sebab, turunnya permintaan, berkurangnya liabilitas usaha, minimnya kapasitas dan fasilitas digital, kurangnya sumber daya dan berbagai hal lain terjadi karena aktifitas kegiatan masyarakat seperti sekolah dan perusahaan menerapkan berkegiatan dirumah.
Baca Juga: Dari Dapur Rumah Raup Rupiah, Kisah Inspiratif Pengusaha Seblak di Papua Barat
“Ini semua terjadi bersamaan dengan kebijakan school from home dan work from home,” ucapnya.












