Memo.co.id, MOJOKERTO – Bencana hidrometeorologi kembali menghantui warga di wilayah utara Kabupaten Mojokerto seiring dengan meningkatnya curah hujan dalam beberapa hari terakhir. Akibat hujan lebat 50 rumah di Kemlagi Mojokerto terdampak banjir luapan sungai Marmoyo yang terjadi pada malam hari, memaksa puluhan keluarga harus berjaga-jaga menyelamatkan harta benda mereka. Air yang datang secara tiba-tiba ini tidak mampu tertampung oleh debit sungai yang sudah melebihi kapasitas, sehingga meluber ke jalanan hingga masuk ke dalam rumah warga. Kondisi geografi wilayah Kemlagi yang berada di dataran rendah membuat aliran air tertahan cukup lama, menciptakan genangan yang melumpuhkan aktivitas ekonomi masyarakat setempat. Hingga pagi ini, warga masih disibukkan dengan upaya pembersihan sisa-sisa lumpur meskipun ancaman hujan susulan masih sangat mungkin terjadi di wilayah Bumi Majapahit tersebut.
Penyebab Utama Meluapnya Debit Air Sungai Marmoyo di Awal Tahun
Banjir yang melanda kawasan Kemlagi ini dipicu oleh akumulasi curah hujan yang sangat tinggi di wilayah hulu sejak sore hari. Saat hujan lebat 50 rumah di Kemlagi Mojokerto terdampak banjir luapan sungai Marmoyo, tanggul sungai tidak lagi sanggup menahan tekanan air yang begitu deras. Sungai Marmoyo yang melintasi beberapa desa di Kecamatan Kemlagi memang dikenal sebagai salah satu titik rawan banjir tahunan, namun kali ini luapannya dianggap lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya karena disertai kiriman air dari wilayah sekitar yang juga mengalami hujan lebat secara merata.
Masyarakat melaporkan bahwa air mulai masuk ke pemukiman sekitar pukul 21.00 WIB. Banyak warga yang tidak sempat menyelamatkan peralatan elektronik dan dokumen penting karena kenaikan debit air yang sangat cepat. “Air datang tiba-tiba setelah hujan deras lebih dari tiga jam. Langsung masuk ke ruang tamu dan dapur,” ujar salah satu warga yang terdampak. Kerugian materiil diperkirakan cukup signifikan, terutama bagi para petani di sekitar aliran sungai yang lahan persawahannya kini berubah menjadi hamparan air seperti danau.
Pihak BPBD Kabupaten Mojokerto segera merespons situasi darurat ini dengan mendirikan posko pengungsian sementara di area yang lebih tinggi. Selain membantu evakuasi, petugas juga mendistribusikan bantuan logistik berupa makanan siap saji dan selimut bagi warga terdampak. Koordinasi dengan Dinas Pekerjaan Umum juga dilakukan untuk mengevaluasi kondisi tanggul yang dikhawatirkan mengalami retakan atau jebol akibat tekanan air yang terus-menerus. Fokus utama saat ini adalah memastikan keselamatan warga, terutama kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, dan ibu hamil agar tidak terjangkit penyakit pasca-banjir.
Selain pemukiman, akses jalan desa juga sempat terputus, membuat distribusi bantuan sedikit terhambat di beberapa titik. Namun, dengan bantuan relawan dan personel TNI-Polri, akses perlahan mulai bisa dilewati menggunakan kendaraan besar. Warga diimbau untuk tetap waspada dan mematikan aliran listrik jika air kembali naik. Pemerintah daerah pun didesak untuk segera melakukan normalisasi sungai Marmoyo secara menyeluruh agar bencana serupa tidak terus berulang setiap kali musim penghujan tiba di Mojokerto.
Dampak Sosial: Hujan Lebat 50 Rumah di Kemlagi Mojokerto Terdampak Banjir Luapan Sungai Marmoyo
Lumpuhnya aktivitas di 50 kepala keluarga ini menjadi perhatian serius pemerintah setempat. Fakta bahwa hujan lebat 50 rumah di Kemlagi Mojokerto terdampak banjir luapan sungai Marmoyo memberikan dampak psikologis bagi warga yang kini merasa tidak tenang setiap kali awan mendung menggelayut. Diperlukan solusi jangka panjang berupa pembangunan tanggul permanen yang lebih tinggi serta pengerukan sedimen di dasar sungai agar kapasitas tampungnya kembali optimal untuk menghadapi cuaca ekstrem di tahun 2026 ini.
Kejadian di mana hujan lebat 50 rumah di Kemlagi Mojokerto terdampak banjir luapan sungai Marmoyo adalah pengingat penting bagi kita semua untuk selalu menjaga kelestarian lingkungan dan waspada terhadap perubahan cuaca. Kerja sama antara masyarakat dalam menjaga kebersihan saluran air dan kesigapan pemerintah dalam membangun infrastruktur pengendali banjir adalah kunci utama meminimalisir dampak bencana. Semoga air segera surut dan warga Kemlagi dapat kembali beraktivitas secara normal tanpa dibayangi rasa takut akan banjir susulan.
FAQ
Ketinggian air bervariasi antara 30 cm hingga mencapai 60 cm di titik-titik terendah dekat bibir sungai.
Hingga laporan ini diturunkan, tidak ada laporan korban jiwa, namun kerugian materiil warga cukup besar.
Dampak terparah berada di beberapa desa di Kecamatan Kemlagi yang berbatasan langsung dengan aliran sungai.
BPBD sedang melakukan pendataan, evakuasi warga yang membutuhkan, serta mendistribusikan bantuan logistik darurat.












