Example floating
Example floating
Life Style

Wah, Gunung Fuji Terancam Punah! Temukan Solusinya yang Mengejutkan!

Alfi Fida
×

Wah, Gunung Fuji Terancam Punah! Temukan Solusinya yang Mengejutkan!

Sebarkan artikel ini
Wah, Gunung Fuji Terancam Punah! Temukan Solusinya yang Mengejutkan!
Wah, Gunung Fuji Terancam Punah! Temukan Solusinya yang Mengejutkan!

MEMO

Dengan keindahan alamnya yang menakjubkan, Gunung Fuji di Jepang telah menarik jutaan pengunjung setiap tahunnya. Namun, popularitasnya yang melonjak telah mengakibatkan masalah serius. Dalam artikel ini, kami akan membahas dampak dari peningkatan jumlah pengunjung Gunung Fuji, tantangan ekologis, dan upaya yang dilakukan pihak berwenang untuk menjaga kelestarian warisan ini.

Baca Juga: Waspada Kesehatan Kasus Leptospirosis Naik di Awal 2026 Musim Hujan Jadi Faktor Utama Penyebaran Bakteri Kencing Tikus di Jawa Timur

Popularitas Memuncak, Tapi Harga yang Harus Dibayar untuk Gunung Fuji?

Dengan jumlah pengunjung yang mencapai jutaan setiap tahunnya, Gunung Fuji di Jepang tidak lagi memiliki ketenangan seperti masa lalu. Kini, pihak berwenang di Jepang merasa khawatir dengan lonjakan jumlah pengunjung yang mendaki gunung berapi ini baik pada siang maupun malam hari.

Kegiatan mendaki di Gunung Fuji pada siang dan malam hari dianggap sebagai tindakan yang berbahaya dan merusak ekosistem. Sebagaimana dilaporkan oleh AFP pada Jumat (8/9), Gubernur wilayah setempat menyatakan, “Gunung Fuji menangis.”

Baca Juga: Fakta!!! Penumpang Daop 7 Madiun Meningkat 4,6 Persen pada Masa Nataru 2025/2026 Dibanding Tahun Sebelumnya

Gunung Fuji memiliki nilai penting dalam agama setempat dan sering menjadi inspirasi bagi seniman-seniman Jepang. Pada tahun 2013, UNESCO bahkan mengakui Gunung Fuji sebagai salah satu Warisan Dunia.

Namun, seperti halnya tempat-tempat indah lainnya di seluruh dunia, pengakuan ini ternyata juga membawa dampak negatif. Jumlah pengunjung meningkat lebih dari dua kali lipat antara tahun 2012 dan 2019, mencapai 5,1 juta kunjungan, yang sebagian besar berlokasi di Prefektur Yamanashi, titik awal pendakian utama ke Gunung Fuji.

Baca Juga: Humas KAI Daop 7 Madiun Himbau Penumpang Datang di Stasiun Lebih Awal Agar Terhindar Macet di Malam Pergantian Tahun

Bukan hanya pada siang hari, bahkan pada malam hari pun terjadi antrian panjang saat pendakian untuk menyaksikan matahari terbit di pagi hari. Seluruh rute pendakian dipenuhi oleh pengunjung yang membawa obor.

Titik awal pendakian hanya dapat dicapai melalui taksi atau bus yang memakan beberapa jam perjalanan dari Tokyo, yang berjarak sekitar 100 kilometer (60 mil).

Saat pengunjung tiba di titik awal, mereka disambut dengan berbagai kompleks restoran dan toko suvenir yang menjual berbagai barang cenderamata dan makanan ringan serta minuman untuk para pendaki sebelum mereka memulai perjalanan mendaki.

Untuk memenuhi kebutuhan listrik dan air, mereka menggunakan generator diesel dan ribuan liter air yang harus diangkut menggunakan truk. Truk-truk ini juga bertanggung jawab untuk mengangkut semua sampah dari area Gunung Fuji.

Seorang pendaki Jepang bernama Yuzuki Uemura, yang berusia 28 tahun, mengeluhkan banyaknya sisa makanan dan botol minuman kosong yang berserakan di sekitar area cuci tangan di toilet.

Tantangan Ekologis dan Solusi Jangka Panjang yang Dicari

Seorang pejabat setempat, Masatake Izumi, mengatakan bahwa jumlah pengunjung yang tinggi di Gunung Fuji meningkatkan risiko kecelakaan. Ia mengungkapkan bahwa beberapa pendaki yang mendaki pada malam hari mengalami hipotermia dan harus dilarikan ke pusat pertolongan pertama.

Sejauh ini, setidaknya satu orang telah meninggal di Gunung Fuji selama musim pendakian ini. Untuk mendapatkan akses ke Gunung Fuji, pengunjung dapat membeli buklet dalam Bahasa Jepang dengan biaya opsional sebesar 1.000 yen atau sekitar Rp104 ribu, yang juga menyertakan kode QR untuk versi Bahasa Inggris. Buklet ini berisi panduan tentang aturan dan larangan selama berada di kawasan Gunung Fuji.