Bengkulu, Memo | – Peternak kerbau di Kabupaten Mukomuko, Bengkulu, kini tengah menghadapi ancaman serius. Sejak April 2025, wabah penyakit ngorok atau Septicaemia Epizootica (SE) telah menyerang, mengakibatkan kematian massal pada ternak. Hingga saat ini, tercatat 122 ekor kerbau telah mati, menyebabkan kerugian finansial yang diperkirakan melampaui Rp2 miliar.
Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Mukomuko, drh. Diana Nurwahyuni, membeberkan data ini berdasarkan laporan resmi dari para pemilik ternak. Namun, ia memperkirakan angka kematian yang sebenarnya jauh lebih tinggi karena belum semua peternak melaporkan kejadian yang menimpa ternak mereka.
Baca Juga: Wujud Kepedulian Sosial, KAI Daop 7 Madiun Sepanjang Tahun 2025 Salurkan Dana Sosial Rp 778 Juta
“Harga satu ekor kerbau berkisar Rp17 hingga Rp20 juta. Bayangkan kerugian yang dialami, terutama oleh peternak kecil yang menggantungkan hidup dari ternaknya,” ungkap Diana, dikutip Kamis (29/5/2025). Kondisi ini tentu memukul keras perekonomian peternak di Mukomuko.
Sebaran Penyakit dan Upaya Penanganan
Penyakit mematikan ini paling banyak menyerang ternak di Kecamatan Teramang Jaya, yang mencatat angka kematian tertinggi di wilayah Mukomuko. Namun, di Kecamatan Ipuh dan sekitarnya, situasi mulai menunjukkan perbaikan signifikan. Hal ini berkat langkah cepat Dinas Pertanian yang telah melakukan vaksinasi massal dan pengobatan intensif.












