Jakarta, Memo
– Presiden Republik Indonesia menegaskan bahwa masa depan Indonesia terletak pada sains dan teknologi, dan pemerintah tak akan tanggung-tanggung membiayai revolusi pendidikan. Bahkan, dana hasil sitaan dari kasus korupsi dan kerugian negara yang fantastis akan disulap menjadi modal besar untuk mencetak para ilmuwan kelas dunia.
Dalam pidatonya, Presiden menyinggung kerugian negara hingga Rp900 triliun di salah satu wilayah sebagai “serangan” non-fisik yang menghabiskan dana pembangunan. Dana sebesar itu, kata Presiden, seharusnya bisa digunakan untuk membiayai pembangunan dan kini, pemerintah bertekad mengembalikannya dalam bentuk investasi masa depan.
Uang Sitaan Koruptor Ratusan Triliun Disita Negara Untuk Dana Pendidikan
“Uang-uang yang kita dapat dari koruptor-koruptor itu sebagian besar kita investasi di LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan),” tegas Presiden.
Ia secara gamblang menyebut bahwa dana besar yang diserahkan oleh Kejaksaan Agung kepada Menteri Keuangan akan dialokasikan ke LPDP, menjamin beasiswa penuh bagi anak-anak pintar dari seluruh pelosok negeri.
Misi Negara: Mencari 2,8 Juta Jenius dari Lapisan Bawah
Presiden menekankan bahwa Indonesia memiliki potensi besar yang tersembunyi. Secara statistik, sekitar 1% populasi (setara 2,8 juta jiwa) memiliki tingkat kecerdasan (IQ) di atas 120. Potensi ini harus dijaring, dan Presiden mewanti-wanti bahwa banyak anak jenius berasal dari keluarga kurang mampu.
“Banyak anak orang bawah, orang miskin ternyata punya kecerdasan yang tinggi. Kita harus cari mereka,” serunya.
Untuk mewujudkan misi pencarian ini, Presiden memberikan instruksi kepada tim besar, melibatkan:
Menteri Dikdasmen dan Menteri Dikti Sains dan Teknologi sebagai koordinator utama.
Didukung oleh Menteri Sosial, Panglima TNI, dan Kapolri, memanfaatkan jaringan mereka hingga ke desa-desa terpencil.












