MEMO, Jakarta: Pemerintah Indonesia terus memperjuangkan inklusivitas dan pemberdayaan dalam membangun konektivitas digital yang bermakna bagi semua orang.
Dalam pertemuan High Level Segment of the International Telecommunication Union (HLS-ITU) Council 2023, Sekjen Kemenkominfo, Mira Tayyiba, menekankan pentingnya literasi dan keterampilan digital, serta tata kelola data yang adil dan transparan untuk mewujudkan konektivitas digital universal.
Pemerintah Indonesia Mengajukan Inklusivitas dan Pemberdayaan dalam Konektivitas Digital Universal
Pemerintah Indonesia terus mengadvokasi pentingnya inklusivitas dan pemberdayaan dalam membangun konektivitas digital yang bermakna bagi semua orang.
Selain itu, konektivitas digital juga memiliki peran penting dalam memberikan literasi dan keterampilan teknologi kepada masyarakat.
Baca Juga: RUU Perampasan Aset Jadi Terobosan 2 Skema Baru Negara Sita Harta Hasil Korupsi
Sekjen Kemenkominfo: Keterampilan Digital dan Tata Kelola Data Adil Penting Bagi Konektivitas Digital
“Selain menyediakan konektivitas digital yang merata, penting bagi Indonesia untuk membekali masyarakat dengan literasi dan keterampilan digital, serta menjaga ruang digital. Dalam upaya membangun konektivitas digital yang bermakna secara universal, Indonesia juga percaya bahwa tata kelola data yang adil dan transparan sangat diperlukan,” kata Mira Tayyiba, Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), dalam pertemuan High Level Segment of the International Telecommunication Union (HLS-ITU) Council 2023 di Jenewa, Swiss pada hari Kamis (13/7/2023).
Mira menegaskan di pertemuan HLS-ITU tersebut bahwa Indonesia juga menekankan peran ITU dalam memastikan konektivitas digital yang dibangun dapat berfungsi dengan baik.
Oleh karena itu, upaya perbaikan terus dilakukan agar konektivitas tersebut dapat dimanfaatkan secara produktif dan aman oleh masyarakat.
“Indonesia juga menganggap penting adanya kerangka kerja yang dapat melindungi masyarakat dari penyalahgunaan atau penyelewengan teknologi digital. Hal ini perlu dikembangkan di tingkat global,” ungkap Mira.
Selain itu, dalam panel tersebut, Mira juga mempresentasikan berbagai upaya kolaborasi Indonesia dengan berbagai pihak, termasuk sektor swasta, akademisi, media, dan komunitas, dalam mewujudkan konektivitas digital yang universal dan bermakna bagi masyarakat.
“Di antara upaya-upaya tersebut adalah peluncuran Satelit Republik Indonesia 1 (SATRIA-1), pelatihan dan lokakarya digital bagi para pembuat kebijakan, serta pemberdayaan UMKM agar dapat bersaing di era digital yang semakin maju,” kata Mira.
Keikutsertaan Indonesia dalam agenda tersebut merupakan bagian dari peran sebagai Dewan ITU Region E. Pada tanggal 3 Oktober 2022, Indonesia kembali terpilih sebagai anggota dewan untuk kawasan Asia-Australia selama periode 2023-2026.
Mewujudkan Konektivitas Digital Inklusif: Peran Indonesia dan Tantangan Global
Indonesia berkomitmen untuk menyediakan konektivitas digital yang merata dan melengkapi masyarakat dengan literasi dan keterampilan teknologi.
Pentingnya tata kelola data yang adil dan transparan dalam membangun konektivitas digital yang bermakna bagi semua orang.
Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk sektor swasta, akademisi, media, dan komunitas, menjadi kunci dalam mewujudkan konektivitas digital universal.












