Bahkan negara-negara seperti Prancis, Jerman, dan Amerika Serikat telah menghentikan bantuan pembangunan yang semula diberikan kepada Niamey, sebagai upaya untuk memaksa para pelaku kudeta agar mengembalikan tatanan konstitusional.
Pada hari Kamis minggu lalu, Biden dengan tegas menuntut agar Bazoum beserta keluarganya segera dibebaskan. Ia berpendapat bahwa rakyat Niger telah memilih Bazoum sebagai presiden melalui proses pemilihan yang bebas dan adil.
Meskipun Gedung Putih belum mengumumkan tindakan militer apa pun, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Antony Blinken, telah secara resmi menyatakan dukungan Washington terhadap upaya yang dilakukan oleh ECOWAS, sebuah blok regional yang terdiri dari 15 negara di Afrika Barat.
Kelompok ini telah mengancam untuk menggunakan kekuatan guna mengembalikan tatanan demokrasi di Niger.
Baca Juga: Umi Sjarifah, Pemred Media Sudut Pandang Raih Anugerah INDOPOSCO atas Dedikasi Jurnalistik
Ancaman Ulama Niger Terhadap Serangan Militer AS: Implikasi Terhadap Stabilitas dan Reputasi
Dalam konteks ini, reaksi AS akan menjadi penentu utama. Mereka dihadapkan pada pilihan antara membantu pemulihan demokrasi atau mengambil tindakan militer. Dalam kedua skenario tersebut, dampak terhadap citra global Amerika Serikat dan stabilitas di kawasan Afrika Barat akan sangat berarti.
Keselamatan dan hak asasi manusia, serta prinsip-prinsip demokrasi, harus menjadi pertimbangan utama dalam setiap langkah yang diambil oleh negara adidaya tersebut.
Baca Juga: Kecelakaan Tragis di Lokasi Bencana Longsor, Dua Polisi Terhimpit Truk Militer












