Sutejo menambahkan bahwa warga setempat pernah menerima bantuan dari pemerintah sekitar awal tahun 2000-an berupa beberapa sak semen. Namun, bantuan tersebut hanya cukup untuk membangun sekitar lima meter jalan. Untuk sisa kebutuhan material seperti pasir dan batu, warga berinisiatif untuk menanggungnya secara swadaya dan mengerjakan pembangunan jalan secara gotong royong.
Lebih lanjut, Sutejo mengungkapkan bahwa longsor kali ini diduga kuat dipicu oleh terbelahnya aliran sungai menjadi dua bagian akibat terhalang oleh rumpun bambu berukuran besar yang tumbuh di tengah sungai. Awalnya, rumpun bambu tersebut telah mati, namun kini kembali tumbuh subur dan ukurannya terlalu besar untuk terbawa arus air.
Baca Juga: Warga Dan Pedagang Geruduk Kantor SPPG Bandar Lor Kediri Karena Dugaan Penipuan
“Bambu di tengah sungai itu masih hidup, padahal dulunya sudah mati. Karena ukurannya yang sangat besar dan tinggi, akhirnya tidak bisa hanyut,” terangnya, menjelaskan penyebab lain dari semakin parahnya erosi sungai.
Sutejo menyampaikan bahwa keberadaan rumpun bambu tersebut telah menjadi penghalang di tengah sungai sejak banjir musim hujan sebelumnya dan masih bertahan hingga saat ini. Ia pesimis pengangkatan bambu tersebut dapat dilakukan selama debit air sungai masih tinggi.
“Saya hanya bisa berharap semoga keluarga dan seluruh warga tetap aman. Karena jelas, jika volume air sungai terus meningkat, jalan ini akan semakin ambrol,” pungkasnya, menyiratkan ketidakpastian dan kekhawatiran akan masa depan akses jalan satu-satunya bagi enam keluarga tersebut.Longsor Gandusari , Akses Jalan Terputus, Sungai Erosi Jalan












