“Selain beras, konsumsi jagung, sagu, dan ketela harus lebih ditingkatkan. Ini bukan hanya untuk memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga untuk mengurangi ketergantungan pada impor,” paparnya.
Ia menambahkan bahwa sebenarnya banyak petani sudah mulai menanam berbagai jenis pangan alternatif. Namun, upaya ini masih belum mendapat perhatian serius dari pemerintah, terutama dalam hal dukungan kebijakan dan pemasaran hasil panen.
Baca Juga: Menuju Swasembada Pangan 2028! Pakar: Strategi Jitu Jadi Kunci Keberhasilan
Tak hanya produksi, masalah utama lainnya yang dihadapi petani adalah distribusi dan stabilitas harga. Menurut Najmi, tanpa adanya jaminan harga yang layak, petani akan terus menghadapi kesulitan dalam menjual hasil panennya.
“Distribusi yang tidak merata dan harga yang tidak stabil membuat petani enggan menanam komoditas pangan alternatif. Jika tidak ada jaminan pasar, diversifikasi pangan sulit berkembang,” tutupnya.
Dengan berbagai tantangan yang masih dihadapi, solusi nyata harus segera diterapkan agar Indonesia bisa mencapai swasembada pangan secara berkelanjutan tanpa bergantung pada impor.
Baca Juga: KAI Daop 7 Madiun Berhasil Tangkap Pelaku Pencuri Baut Rel di Blitar, Humas : Ini Kejahatan Serius












