MEMO – Upaya mewujudkan swasembada pangan di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan serius. Kepala Pusat Pengkajian dan Penerapan Agroekologi Serikat Petani Indonesia (SPI), Muhammad Komarun Najmi, menyoroti bahwa kebijakan pemerintah saat ini belum sepenuhnya sejalan dengan kebutuhan petani.
Menurut Najmi, keberhasilan swasembada pangan bergantung pada keseimbangan antara penggunaan pupuk organik dan pupuk kimia. Namun, hingga saat ini, kebijakan yang ada masih lebih mengutamakan pupuk kimia.
Baca Juga: Menuju Swasembada Pangan 2028! Pakar: Strategi Jitu Jadi Kunci Keberhasilan
“Pemerintah harus memastikan bahwa pupuk organik juga menjadi prioritas, bukan hanya pupuk kimia,” ujar Najmi dalam wawancara, Minggu (23/2/2025).
Najmi menjelaskan bahwa salah satu hambatan terbesar dalam mencapai swasembada pangan adalah kebijakan yang kurang berpihak pada petani kecil. Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan dalam distribusi pangan, sehingga produksi dalam negeri sering kali tidak terserap dengan baik di pasar.
“Tanpa kebijakan yang benar-benar mendukung petani kecil, swasembada pangan hanyalah wacana,” tegasnya.
Lebih lanjut, Najmi mengungkapkan bahwa diversifikasi pangan harus menjadi agenda utama pemerintah agar Indonesia tidak terus bergantung pada beras.
Baca Juga: KAI Daop 7 Madiun Berhasil Tangkap Pelaku Pencuri Baut Rel di Blitar, Humas : Ini Kejahatan Serius
“Selain beras, konsumsi jagung, sagu, dan ketela harus lebih ditingkatkan. Ini bukan hanya untuk memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga untuk mengurangi ketergantungan pada impor,” paparnya.
Ia menambahkan bahwa sebenarnya banyak petani sudah mulai menanam berbagai jenis pangan alternatif. Namun, upaya ini masih belum mendapat perhatian serius dari pemerintah, terutama dalam hal dukungan kebijakan dan pemasaran hasil panen.
Tak hanya produksi, masalah utama lainnya yang dihadapi petani adalah distribusi dan stabilitas harga. Menurut Najmi, tanpa adanya jaminan harga yang layak, petani akan terus menghadapi kesulitan dalam menjual hasil panennya.
“Distribusi yang tidak merata dan harga yang tidak stabil membuat petani enggan menanam komoditas pangan alternatif. Jika tidak ada jaminan pasar, diversifikasi pangan sulit berkembang,” tutupnya.
Dengan berbagai tantangan yang masih dihadapi, solusi nyata harus segera diterapkan agar Indonesia bisa mencapai swasembada pangan secara berkelanjutan tanpa bergantung pada impor.












