Example floating
Example floating
inspirasi

Siapa Sangka Cacing Bisa Jadi Pahlawan Ekonomi

Avatar
×

Siapa Sangka Cacing Bisa Jadi Pahlawan Ekonomi

Sebarkan artikel ini

Joko juga mengungkapkan kemampuan adaptasi cacing yang luar biasa, di mana mereka bisa hidup di habitat ekstrem seperti ventilasi hidrotermal di laut dalam. Bahkan, ada jenis cacing yang bentuknya mirip lipstik yang mampu bertahan hidup di suhu panas hingga 400 derajat Celsius.

Bagaimana bisa? Ternyata, cacing ini menjalin simbiosis dengan bakteri untuk mendapatkan makanan, karena mereka tidak memiliki saluran pencernaan. Di Indonesia sendiri, beberapa jenis cacing Polychaeta ternyata menjadi bagian dari kuliner lokal, contohnya adalah cacing laor di Ambon.

Baca Juga: Dansatgas TMMD ke-127 Sekaligus Dandim 0809/Kediri Tinjau Langsung Sasaran Pembangunan di Desa Gadungan

Cacing laor menjadi istimewa karena kandungan proteinnya yang tinggi, yang disebabkan karena mereka sedang dalam masa perkawinan massal. “Yang dikonsumsi sebenarnya adalah sel kelamin cacing, bukan dagingnya,” jelas Joko.

Ada juga cacing laut jenis Odontosyllis enopla yang muncul dalam jumlah besar saat musim reproduksi. Mereka mengeluarkan senyawa lusiferin yang membuat tubuhnya memancarkan cahaya hijau yang indah.

Baca Juga: Reses M Hadi DPRD Jatim Asal Golkar Temukan Keluhan Warga Atas Kurang Singkronnya Kebijakan Walkot Kediri dengan Kadis

Fenomena ini dikenal sebagai marine bioluminescence, yang mampu memukau para wisatawan. Bahkan, pada zaman dahulu, Christopher Columbus pernah mencatat adanya cahaya di air laut yang menyerupai lilin.

Fenomena bioluminescence ini menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk menikmati pemandangan malam yang magis di pantai. “Jadi, Polychaeta ini adalah cacing yang bisa menghasilkan cuan,” tegas Joko.

Baca Juga: Pastikan Kesiapan Angkutan Lebaran 2026, Dirjen Perkeretaapian Kemenhub Inspeksi Keselamatan dan Pelayanan di Wilayah Daop 7 Madiun

Berbeda dengan cacing parasit yang seringkali merugikan, Polychaeta justru memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Contohnya, spesies Alitta virens dibudidayakan di Inggris dan Belanda untuk diekspor sebagai umpan pancing.

Di Indonesia sendiri, beberapa jenis seperti Perinereis aibuhitensis dan Diopatra claparedii juga dimanfaatkan sebagai umpan pancing. Bahkan, Perinereis nuntia digunakan sebagai pakan induk udang kaki putih dalam budidaya.

Tak hanya itu, Polychaeta juga memiliki peran penting sebagai bioindikator pencemaran perairan. Contohnya, Capitella capitata menjadi indikator pencemaran bahan organik di wilayah subtropis.

Di Ambon, Capitella ambonensis juga digunakan sebagai bioindikator pencemaran. Sementara itu, D. claparedii memiliki kemampuan mengakumulasi logam berat, sehingga dapat menjadi indikator adanya pencemaran logam berat di suatu perairan.

Joko menyebutkan bahwa ada sekitar 12.000 jenis Polychaeta yang tersebar di seluruh dunia. Namun, sayangnya, kontribusi Indonesia terhadap angka tersebut masih sangat kecil, yaitu hanya sekitar 300 jenis saja yang tercatat.

Lebih memprihatinkan lagi, sebagian besar spesimen Polychaeta dari Indonesia justru tersimpan di luar negeri, terutama di Belanda. “Koleksi di Museum Zoologicum Bogoriense hanya sekitar 300 spesimen,” ungkapnya.

Minimnya penelitian taksonomi mengenai Polychaeta menjadi tantangan besar di Indonesia. Apalagi, Joko saat ini menjadi satu-satunya ilmuwan Indonesia yang secara khusus mendalami taksonomi Polychaeta. Dengan semangat yang membara, ia bertekad untuk mengungkap keanekaragaman biota laut Indonesia, khususnya Polychaeta, beserta potensi yang terkandung di dalamnya secara menyeluruh.