Example floating
Example floating
TRENGGALEK

SD Gembleb 1 Trenggalek di Ambang Kepunahan, Kelas Satu Hanya Dapat Satu Murid

Hamzah Jurnalis
×

SD Gembleb 1 Trenggalek di Ambang Kepunahan, Kelas Satu Hanya Dapat Satu Murid

Sebarkan artikel ini
SD Gembleb 1 Trenggalek di Ambang Kepunahan, Kelas Satu Hanya Dapat Satu Murid

Kamim (35), guru agama di sekolah itu, adalah saksi bisu kesunyian yang kian dalam. Dengan rumah hanya sepelemparan batu dari gerbang sekolah, ia melihat langsung bagaimana asa para guru menipis setiap pagi.

“Iya, sampai sekarang pendaftaran masih dibuka. Masuk sekolahnya tanggal 14 Juli nanti,” ujar Kamim, suaranya terdengar pasrah.

Baca Juga: Konflik Timur Tengah Memanas, Bupati Trenggalek Mas Ipin "Tersandra" di Arab Saudi

Angka satu siswa ini memang sangat mencolok jika dibandingkan tahun lalu, ketika SDN 1 Gembleb masih berhasil menarik 11 siswa baru. Sebuah penurunan yang drastis, bagai daun kering yang gugur di musim kemarau.

Kamim menduga, akar masalahnya ada dua: jumlah anak usia sekolah yang memang berkurang, dan tren orang tua yang kian melirik sekolah swasta, mungkin karena citra, fasilitas, atau janji-janji yang lebih menggiurkan.

Baca Juga: Batu Raksasa Setara Truk Longsor dari Tepi Gunung, Tutup Jalur Trenggalek Ponorogo

Pagi hari di SDN 1 Gembleb adalah lukisan tentang kesetiaan yang perlahan memudar. Beberapa guru masih tampak berdiri di depan gerbang, mata mereka menelusuri jalanan yang lengang, berharap ada sosok kecil dengan tas baru yang muncul. Namun, takdir seringkali kejam.

Sekitar pukul 09.30 WIB, satu per satu, mereka mulai undur diri. Kelas-kelas kembali sunyi, bangku-bangku kosong kembali menanti, dan hanya semilir angin yang melambai di papan tulis, seolah bertanya: “Akankah esok ada tawa lagi di sini?”

Baca Juga: Arena Sabung Ayam Muncul Lagi di Trenggalek, Warga Resah: Dekat Masjid, Ramai Sampai Larut

Di tengah sunyinya pagi itu, sebuah janji tetap menggema dari Kamim: “Walaupun hanya satu atau tidak ada murid tambahan, pasti akan tetap diajar seperti biasa di sini.”

Sebuah janji yang tulus, namun tak bisa menghalau kekhawatiran akan masa depan pendidikan di sudut kecil Trenggalek ini.