Trenggalek, Memo
Di pelukan bukit-bukit yang hijau, tak jauh dari megahnya Gunung Wilis, terhampar sebuah kisah pilu tentang sebuah harapan yang kian meredup.
SD Negeri 1 Gembleb, sekolah dasar yang seharusnya riuh dengan tawa dan celoteh anak-anak, kini menghadapi kenyataan pahit: hingga sepekan jelang tahun ajaran baru 2025/2026, bangku-bangku kelas satu hanya akan ditemani satu pasang mata mungil.
Baca Juga: Konflik Timur Tengah Memanas, Bupati Trenggalek Mas Ipin "Tersandra" di Arab Saudi
Sebuah potret kesunyian yang menggantung di koridor-koridor sekolah, menanti langkah-langkah kecil yang tak kunjung tiba.
Attaya Abil Rizkiano, itulah nama pahlawan cilik yang menjadi satu-satunya asa di kelas satu. Kakeknya, Koerun (68), tak pernah menyangka bahwa cucunya akan sendirian meniti tangga pendidikan di sana. “Awalnya ya tidak tahu kalau bakal sesepi ini,” ucap Koerun, dengan nada berat yang menyimpan kekecewaan.
Baca Juga: Batu Raksasa Setara Truk Longsor dari Tepi Gunung, Tutup Jalur Trenggalek Ponorogo
Ia telah berjuang keras memperkenalkan sekolah itu kepada kerabat, bahkan orang tua murid pernah dikumpulkan untuk sama-sama “menjual” sekolah ini. Namun, takdir berkata lain.
Abil, yang kedua orang tuanya mengais rezeki di kota lain, kini menjadi tumpuan harapan di sebuah sekolah yang pelan-pelan kehilangan detak jantungnya. Koerun, dengan setia mengantar cucunya les privat, memastikan Abil siap menghadapi hari pertama sekolah yang entah akan semeriah apa.
Baca Juga: Arena Sabung Ayam Muncul Lagi di Trenggalek, Warga Resah: Dekat Masjid, Ramai Sampai Larut
“Kata kepala sekolah cucu saya tetap diterima dan akan tetap diajar seperti pada umumnya,” lanjutnya, sebuah janji yang menghangatkan namun tak mampu menepis sepi.
Ironisnya, teman-teman sepermainan Abil di taman kanak-kanak, yang berjumlah hanya tiga anak, semuanya memilih jalan lain: sekolah swasta yang lebih ramai, mungkin menjanjikan tawa dan teman yang lebih banyak.












