Memo.co.id – Napas industri kerajinan tanah liat di Jawa Timur kini berada di titik nadir seiring dengan perubahan tren konstruksi bangunan modern. Namun, secercah cahaya muncul saat perajin genting di Lamongan berharap kebijakan gentengisasi Prabowo hidupkan industri lokal melalui program perbaikan rumah secara masif di seluruh Indonesia. Selama satu dekade terakhir, ribuan perajin di pelosok Lamongan harus gigit jari karena permintaan pasar yang terus merosot tajam, kalah bersaing dengan atap baja ringan atau asbes. Padahal, genting tanah liat produksi lokal dikenal memiliki keunggulan alami dalam meredam panas dan lebih tahan lama untuk iklim tropis nusantara. Kini, para pelaku usaha kecil ini mendesak pemerintah agar dalam pelaksanaan program pembangunan rumah subsidi atau renovasi kampung, material yang digunakan wajib bersumber dari produk UMKM setempat. Langkah ini dianggap sebagai solusi paling konkret untuk membangkitkan kembali kejayaan industri genting tradisional yang menjadi tumpuan hidup ribuan kepala keluarga di tahun 2026 ini.
Penyebab Lesunya Industri Genting Tanah Liat Lokal di Tengah Modernisasi
Kondisi sentra industri genting di Lamongan saat ini sungguh memprihatinkan. Banyak tungku pembakaran yang kini dibiarkan dingin karena biaya produksi yang terus naik tidak sebanding dengan harga jual yang anjlok. Fakta bahwa perajin genting di Lamongan berharap kebijakan gentengisasi Prabowo hidupkan industri lokal adalah bentuk jeritan hati para pekerja yang mulai kehilangan mata pencaharian. Masifnya penggunaan galvalum dan atap ringan lainnya di proyek-proyek perumahan baru membuat permintaan genting tanah liat turun hingga lebih dari 60 persen dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Para perajin menjelaskan bahwa proses pembuatan genting tradisional memerlukan waktu dan tenaga yang besar, mulai dari pemilihan tanah liat berkualitas, pencetakan, penjemuran, hingga pembakaran suhu tinggi. Namun, semua kerja keras itu seolah tak dihargai di pasar bebas. Jika pemerintah benar-benar menggulirkan program “gentengisasi” sebagai bagian dari revitalisasi pemukiman, maka ini akan menjadi angin segar yang mampu menggerakkan roda ekonomi desa secara instan. Perajin meminta agar pemerintah tidak hanya memberikan bantuan alat, tetapi yang terpenting adalah kepastian serapan pasar melalui proyek-proyek negara.
Selain faktor ekonomi, perajin juga menyoroti aspek kesehatan dan lingkungan. Genting tanah liat tidak mengandung zat berbahaya seperti asbes dan memiliki sirkulasi udara yang lebih baik sehingga rumah terasa lebih sejuk tanpa perlu banyak menggunakan pendingin ruangan (AC). Dengan mendukung produk lokal, pemerintah secara tidak langsung juga mempromosikan hunian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Para perajin di Lamongan menyatakan kesanggupannya untuk memenuhi kuota besar jika memang diberikan kesempatan dalam rantai pasok proyek nasional tersebut.
Sentra industri di wilayah seperti Kecamatan Karanggeneng dan sekitarnya berharap ada koordinasi yang jelas antara Pemerintah Kabupaten Lamongan dengan kementerian terkait di pusat. Pendataan terhadap jumlah perajin yang masih aktif perlu dilakukan agar bantuan atau orderan nantinya bisa merata dan tepat sasaran. Mereka tidak ingin program yang bagus ini justru dinikmati oleh pabrikan besar, sementara perajin skala rumahan tetap terpinggirkan. Semangat “gentengisasi” haruslah menjadi semangat kemandirian material nasional yang berbasis pada kekuatan rakyat kecil.
Optimisme Industri: Perajin Genting di Lamongan Berharap Kebijakan Gentengisasi Prabowo Hidupkan Industri Lokal
Keyakinan akan bangkitnya ekonomi kerakyatan kini tertuju pada janji-janji politik yang berpihak pada UMKM. Situasi di mana perajin genting di Lamongan berharap kebijakan gentengisasi Prabowo hidupkan industri lokal menunjukkan bahwa masyarakat bawah sangat haus akan kebijakan yang solutif. Jika industri ini kembali pulih, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pemilik usaha, tapi juga buruh angkut, pencari kayu bakar untuk pembakaran, hingga pedagang di sekitar lokasi industri yang akan ikut kecrat-kret rejeki di tahun 2026.
Harapan besar di mana perajin genting di Lamongan berharap kebijakan gentengisasi Prabowo hidupkan industri lokal adalah ujian bagi komitmen pemerintah terhadap produk dalam negeri. Jangan sampai warisan keterampilan nenek moyang ini punah ditelan zaman hanya karena kurangnya keberpihakan kebijakan. Mari kita dukung pemakaian material lokal yang berkualitas dan ramah lingkungan untuk membangun masa depan Indonesia yang lebih kokoh. Semoga suara para perajin dari Lamongan ini didengar dan diwujudkan dalam aksi nyata yang menyejahterakan seluruh rakyat.
FAQ
Program ini merujuk pada wacana perbaikan atap rumah warga tidak mampu menggunakan material genting yang lebih layak dan sehat.
Terutama karena harganya kalah bersaing dengan material atap modern yang lebih praktis saat pemasangan meski secara fungsi suhu kurang baik.
Sangat kompetitif. Genting Lamongan dikenal kuat dan memiliki daya tahan hingga puluhan tahun jika proses pembakarannya sempurna.
Dengan memprioritaskan pembelian genting tanah liat untuk renovasi rumah pribadi atau proyek pembangunan lokal di wilayah sekitar.












