“Kalau tidak ada komunikasi, tiba-tiba dibangun, para pedagang didepak dan diganti pedagang dari luar. Kami khawatir akan bernasib seperti itu,” tegas Hani.
Selain persoalan pembangunan, para pedagang juga mengeluhkan cara pemerintah menghidupkan Pasar Legi lewat berbagai event. Alih-alih meningkatkan daya tarik pasar, kegiatan tersebut justru membuat pedagang kehilangan penghasilan.
Baca Juga: Ratusan Warga 212 Datangi Kantor Kecamatan Rejotangan, Tuntut Perbaikan Jalan Rusak
“Tiba-tiba dipasang panggung besar, jalan utama ditutup, kami tidak bisa jualan. Bahkan panitia mendatangkan pedagang dari luar. Kami sama sekali tidak diajak rembukan,” lanjutnya.
Sementara itu, H. Mahmudi, salah satu tokoh pedagang, berharap Wali Kota Blitar turun langsung menemui pedagang untuk mendengar aspirasi mereka.
Baca Juga: IPAL di Dalam Dapur, MBG SPPG Jajar Sempat Diantar Pick Up Terbuka
“Kalau sebelum membangun, para pedagang tidak diajak komunikasi dulu, pasti menimbulkan kemarahan. Kami minta Wali Kota datang langsung ke lapak-lapak kami, dengarkan sendiri keluhannya,” ucap Mahmudi.
Ia menambahkan, para pedagang memberi waktu satu minggu kepada Wali Kota Blitar untuk membuka ruang dialog. Jika tidak ada tanggapan, mereka mengancam akan menggelar aksi ke Balai Kota.
“Kami bukan mengancam, tapi kalau tidak ada koordinasi, kami akan datang bersama puluhan pedagang ke kantor Wali Kota. Kami ingin kejelasan, bukan janji,” tegas Suhani menimpali.
Diketahui, kondisi Pasar Legi saat ini memang cukup memprihatinkan. Aktivitas jual beli lesu, dan sebagian besar pedagang hanya bisa berjualan satu hingga dua kali seminggu untuk menutup biaya operasional serta cicilan. Pemerintah Kota Blitar beralasan, agenda event dan rencana pembangunan dilakukan untuk menghidupkan kembali roda ekonomi di kawasan tersebut. Namun, tanpa komunikasi yang baik, kebijakan ini justru memicu gejolak dan rasa tidak percaya dari para pedagang.**












