Caranya adalah dengan menerapkan pola konsumsi B2SA, yang erat kaitannya dengan persiapan konsumsi makanan yang disediakan oleh ibu di rumah.
“Untuk menerapkan B2SA, diperlukan upaya-upaya seperti sosialisasi agar ibu-ibu memiliki wawasan tentang cara menyiapkan makanan B2SA yang beragam,” tuturnya.
Helmy Elisabeth menambahkan bahwa pada tahun 2022, pemerintah kabupaten telah melakukan kegiatan pendampingan olahan pangan non-beras, seperti pengolahan dengan kacang hijau di Kecamatan Balen.
Langkah ini juga merupakan upaya kolaborasi lintas sektor dalam rangka percepatan penurunan, penanganan, dan pencegahan stunting.
Selain itu, Helmi juga mengajak ibu-ibu PKK untuk selalu menciptakan inovasi dalam penyajian pangan yang bergizi seimbang dan aman, dengan memanfaatkan bahan pangan lokal yang tersedia di sekitar kita sehari-hari.
Dengan adanya sosialisasi pangan B2SA di Bojonegoro, masyarakat diajak untuk berperan aktif dalam menjaga kesehatan dan produktivitas.
Baca Juga: Buntut Kasus Dugaan Kasus Ijazah Palsu Dewan di Kediri, KPU Silakan Bila Ada Pihak Yang Akan Gugat
Dalam upaya kolaborasi lintas sektor, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Bojonegoro, Helmy Elisabeth, menekankan perlunya pendampingan olahan pangan non-beras dan inovasi penyajian pangan bergizi seimbang dan aman dari bahan pangan lokal.
Dukungan masyarakat dalam mengurangi penggunaan pestisida dan bahan kimia lainnya menjadi langkah awal untuk menjaga kesehatan tetap terjaga dan mewujudkan panen hidup sehat.












