Example floating
Example floating
Birokrasi

Presiden Ungkap Kerugian Fantastis di Bangka Belitung, Minta Pejabat Wajib Pakai Maung

A. Daroini
×

Presiden Ungkap Kerugian Fantastis di Bangka Belitung, Minta Pejabat Wajib Pakai Maung

Sebarkan artikel ini
Presiden Ungkap Kerugian Fantastis di Bangka Belitung, Minta Pejabat Wajib Pakai Maung

Jakarta, Memo

Presiden Republik Indonesia baru-baru ini menjadi sorotan setelah memberikan pidato yang memadukan ketegasan, kejujuran personal, dan visi pembangunan nasional, terutama terkait industri pertahanan dan otomotif dalam negeri.

Baca Juga: Respon Aduan Masyarakat, Saluran Irigasi di Kelurahan Ngampel Sepanjang 115 Meter Langsung Direhab Pemkot Kediri

Dalam pidatonya, Presiden menyinggung kerugian finansial yang sangat besar akibat “serangan non-fisik” serta memberikan perintah tegas kepada para pejabat dan perwira TNI untuk meninggalkan mobil impor dan segera menggunakan kendaraan taktis buatan dalam negeri, Maung.

Kerugian Rp900 Triliun: Sebuah ‘Serangan’ yang Menghabiskan Dana Pembangunan

Presiden mengawali pidatonya dengan menyoroti kerugian yang dialami negara, menyebutnya sebagai sebuah “serangan” yang dampaknya jauh lebih besar daripada serangan fisik. Ia mengambil contoh kasus yang terjadi di Provinsi Bangka Belitung.

Baca Juga: Reses M Hadi DPRD Jatim Asal Golkar Temukan Keluhan Warga Atas Kurang Singkronnya Kebijakan Walkot Kediri dengan Kadis

“Saudara-saudara, saya beri contoh dari Bangka Belitung. Kita hilang 45 triliun tiap tahun selama sekian puluh tahun. Apakah itu bukan sebuah serangan?” tanya Presiden.

Presiden kemudian melakukan kalkulasi yang mengejutkan. Jika kerugian Rp45 triliun itu terjadi selama 20 tahun, total kerugian yang diderita negara mencapai Rp900 triliun.

Baca Juga: Sengketa Proyek Alun-alun Masuk Babak Baru, Selisih Pembayaran Rp 9 M Lebih  Ditolak Kontraktor, begini pernyataan Kadis PUPR Kota Kediri

“Apa yang kita bisa bangun dengan 900 triliun, Saudara-saudara?” tegasnya, menyoroti betapa besar potensi dana pembangunan yang hilang akibat kerugian tersebut. Meskipun demikian, Presiden menyatakan bahwa upaya untuk mengatasi masalah ini sudah mulai dirintis.

Maung: Kebanggaan Baru Militer dan Pejabat Indonesia

Setelah menyinggung masalah kerugian, Presiden beralih ke topik yang lebih inspiratif: kemandirian industri otomotif dalam negeri. Ia memastikan bahwa Indonesia akan memiliki mobil buatan sendiri dalam kurun waktu tiga tahun ke depan.

“Kita akan punya mobil buatan Indonesia dalam 3 tahun yang akan datang,” ujarnya penuh optimisme.

Saat ini, tim sudah berhasil merintis kendaraan jenis Jeep yang diberi nama Maung. Presiden dengan bangga menyinggung bagaimana kendaraan ini harus menjadi simbol kebanggaan bagi para perwira dan pejabat militer.

“Sekarang pejabat-pejabat kita, perwira-perwira kita bangga kita tidak pakai Jeep buatan negara lain. Kita pakai Jeep buatan Indonesia sendiri,” jelas Presiden. “Komandan-komandan pasukan kita kalau naik kendaraan mimpin pasukannya, dia bangga dia pakai Jeep buatan Indonesia.”

Curhat Naik Alphard hingga Perintah Wajib ‘Maung’

Momen paling santai dan jujur terjadi ketika Presiden menceritakan pengalamannya naik mobil non-dinas.

Presiden mengenang, “Kemarin saya berangkat, harus saya pergi, saya mau incognito, jadi saya enggak mau pakai… saya pakai mobil biasa, tapi saya pakai Alphard. Sudah lama saya enggak menikmati Alphard. Enak juga ini, ya.”

Namun, ia segera teringat akan posisinya sebagai pemimpin yang harus memberi contoh.

“Tapi [Prabowo] ingat, kamu Presiden di Indonesia harus beri contoh. Ya sudah, pakai Maung terus,” imbuhnya sambil bercanda.

Setelah itu, ia mengeluarkan perintah tegas dan santai yang ditujukan kepada para menteri dan pejabat yang hadir:

“Dan sebentar lagi, saudara-saudara semua harus pakai Maung. Saya enggak mau tahu tuh yang mobil-mobil bagus. Pakai kalau kalau libur saja, ya. Pada saat saya enggak panggil, kau bolehlah kau pakai [mobil] B.”

Presiden kemudian mengakhiri pidatonya dengan permintaan maaf kepada media karena ia harus melanjutkan pembahasan yang bersifat internal. “Jadi usirnya sopan, karena bagian ini enggak boleh kau dengar. Jadi, ada hal-hal yang memang belum siap untuk diumumkan,” pungkasnya sambil mempersilakan hadirin menikmati hidangan.