Ronny juga menyoroti sejumlah manfaat dari bioethanol, termasuk pengurangan ketergantungan pada bahan bakar fosil, penurunan emisi gas rumah kaca, dan peningkatan ketahanan energi nasional. Bioethanol memiliki keunggulan tambahan karena dapat digunakan pada kendaraan yang saat ini menggunakan bensin. Selain itu, bioethanol dapat memanfaatkan limbah organik dan berpotensi menciptakan lapangan kerja baru.
Dengan terus berkembangnya teknologi bioethanol, Ronny berharap bahwa bioethanol dapat menjadi solusi alternatif yang lebih luas dan efektif dalam mengatasi tantangan energi serta perubahan iklim di Indonesia. “Kita memang harus mengembangkan biofuel yang kompatibel dengan kendaraan yang ada saat ini. Salah satu upaya untuk menggantikan sebagian bensin adalah dengan menggunakan bioethanol,” tambahnya.
Baca Juga: Pakar Hukum Sebut Rekrutmen Perangkat Desa Kabupaten Kediri Tahun 2023 Cacat Hukum
Dia juga menjelaskan bahwa bioethanol, yang dihasilkan dari bahan baku seperti gula dan pati, menawarkan energi yang lebih tinggi dibandingkan bensin. Meskipun bioethanol dapat diproduksi dari bahan baku pangan dan non-pangan seperti singkong dan jagung, produksi saat ini masih terbatas.
“Hingga saat ini, bioethanol hanya digunakan sebagai campuran E05 di Jakarta dan Surabaya. Sementara itu, kebutuhan bensin nasional mencapai 29 juta kiloliter per tahun,” jelas Ronny. Produksi bioethanol di Indonesia saat ini hanya mencapai 34.500 kiloliter, yang masih jauh dari mencukupi kebutuhan pasar. Oleh karena itu, percepatan pengembangan bioethanol sangat penting untuk memenuhi target bauran energi terbarukan yang telah ditetapkan pemerintah.
Pentingnya Transisi ke Energi Terbarukan
Ronny Purwadi dari ITB menyoroti bahwa kendaraan berbasis Energi Baru dan Terbarukan (EBT) seperti biodiesel dan bioethanol dapat memainkan peran kunci dalam mengurangi emisi gas rumah kaca. Penggunaan bahan bakar fosil yang berlebihan memicu masalah lingkungan, sehingga perlu dilakukan perubahan signifikan menuju sumber energi yang lebih bersih dan berkelanjutan. Meski biodiesel berbasis minyak sawit sudah mulai diterapkan, bioethanol dianggap sebagai alternatif yang semakin relevan, mengingat sebagian besar kendaraan saat ini masih menggunakan bensin.












