Example floating
Example floating
JatimPeristiwa

Petaka di Perut Ular Raksasa, Petani Buton Selatan Tewas Ditelan Piton, Warga Terguncang!

Andika Sifaul Muna
×

Petaka di Perut Ular Raksasa, Petani Buton Selatan Tewas Ditelan Piton, Warga Terguncang!

Sebarkan artikel ini
Petaka di Perut Ular Raksasa, Petani Buton Selatan Tewas Ditelan Piton, Warga Terguncang!

Desa Majapahit, Batauga, yang biasanya tenang, kini diliputi kengerian. Sebuah kisah nyata yang tak kalah mencekam dari film horor baru saja terkuak: La Noti (61), seorang petani lokal, ditemukan tak bernyawa di dalam perut seekor ular piton raksasa pada Sabtu (5/7/2025).

Peristiwa tragis ini bukan sekadar insiden, melainkan alarm bahaya baru bagi warga, mengingat serangan ular di wilayah Sulawesi Tenggara terus meningkat dan kini telah merenggut nyawa manusia.

Baca Juga: Duka Bencana Petang Di Kepuhkembeng Jombang Puting Beliung Rusak Rumah Musala Dan Warung Kopi Hingga Warga Alami Trauma

La Noti hilang sejak Jumat (4/7/2025), setelah pagi-pagi pamit ke kebunnya untuk memberi makan ayam ternak dan memenuhi pesanan tetangga untuk pesta pernikahan. Kecemasan keluarga berubah menjadi horor saat pencarian yang melibatkan puluhan warga hanya menemukan sepeda motor La Noti terparkir di pinggir jalan dekat kebun.

Pencarian pun berlanjut hingga Sabtu sore, dan di sanalah, sebuah teriakan memecah kesunyian, mengungkap misteri yang tak terbayangkan.

Baca Juga: Situasi Panas Geger Di Gresik Kota Baru Oknum Perguruan Silat Diduga Jadi Korban Pengeroyokan Motor Ringsek Dan Polisi Buru Pelaku

 

Baca Juga: Sengketa Proyek Alun-alun Masuk Babak Baru, Selisih Pembayaran Rp 9 M Lebih  Ditolak Kontraktor, begini pernyataan Kadis PUPR Kota Kediri

Detik-Detik Penemuan Horor: Saat Kebun Menjadi Kuburan

Dirman (44), kerabat korban yang juga Babinsa Kelurahan Majapahit, menjadi saksi kunci kisah mengerikan ini. Ia menceritakan bagaimana seorang warga nyaris menginjak sesuatu yang tak lazim. Saat didekati, terkuaklah sesosok ular piton sepanjang 8 meter dengan perut membuncit secara tidak wajar.

Kecurigaan langsung menusuk kalbu. ”Lihat sekilas saya sudah curiga di dalam perut sepertinya bukan hewan ternak,” ucap Dirman, yang dihubungi dari Kendari, Minggu pagi.

Tanpa menunggu lama, warga yang dilanda rasa takut bercampur penasaran itu menarik ular tersebut, lalu membunuhnya. Dengan tangan gemetar, seorang warga kemudian membelah perut sang reptil raksasa. Dan di balik kulitnya yang tersibak, tampaklah sesosok jenazah menghitam, masih utuh dengan pakaian dan jas hujan.

La Noti, yang dicari seharian, ditemukan. Namun, bukan lagi dengan senyum sapa, melainkan dalam kondisi yang tak terperi. Sebuah akhir yang tragis bagi perjuangan hidupnya sebagai petani.

Ancaman yang Kian Nyata: Ketika Mangsa Alami Mulai Langka

Tragedi ini menjadi pukulan telak bagi warga Buton Selatan. Selama ini, serangan ular piton memang bukan hal asing, tetapi korbannya selalu hewan ternak. Kasus kematian La Noti adalah yang pertama kali menimpa manusia di wilayah ini, seperti dikonfirmasi oleh Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Buton Selatan, La Ode Risawal.

“Belum pernah ada kejadian serangan ular yang membuat warga tewas,” katanya.

Namun, ia tak menampik bahwa kemunculan ular piton di permukiman dan kebun warga semakin sering. Dalam beberapa bulan terakhir saja, sudah ada sepuluh kali penampakan ular dan beberapa kasus ternak yang hilang. Data dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sultra turut menguatkan kekhawatiran ini.

Kepala Seksi Konservasi Wilayah II BKSDA Sultra, La Ode Kaida, mengungkapkan bahwa serangan ular di Sulawesi Tenggara terus meningkat dalam tiga tahun terakhir. Bahkan, pada 2023, seorang petani di Konawe Selatan tewas dililit piton, dan setahun setelah itu, seorang warga terluka parah dalam insiden serupa.

Menurut Kaida, peningkatan serangan ini mengindikasikan adanya gangguan terhadap ruang gerak ular dan berkurangnya mangsa alami di hutan. Ular piton, yang umumnya keluar sarang untuk berburu, akan menyerang apa saja yang ditemukan jika kelaparan.

“Kalau kejadian terus berulang, bisa saja mangsa alami ular mulai berkurang dan terjadinya pembukaan kawasan yang mengganggu ruang jelajah ular tersebut,” jelas Kaida. Ia juga menyoroti kematian babi hutan dalam jumlah besar baru-baru ini yang bisa menjadi pemicu, ditambah pergantian musim yang membuat ular semakin aktif.

Kematian La Noti adalah pengingat yang pahit: bahaya tak terduga mengintai di sekitar kita. Kaida mengimbau warga untuk selalu waspada, tidak berkebun atau masuk hutan seorang diri, dan segera mencari pertolongan jika diserang.

Kini, di setiap langkah di kebun atau hutan, bayangan perut raksasa itu mungkin akan selalu menghantui, mengingatkan akan kerapuhan hidup di hadapan alam yang bisa tiba-tiba menunjukkan sisi paling brutalnya.