Example floating
Example floating
Jatim

Perjuangan Ayah Gendong Anak Seberangi Sungai Deras Demi Sekolah di Ponorogo

A. Daroini
×

Perjuangan Ayah Gendong Anak Seberangi Sungai Deras Demi Sekolah di Ponorogo

Sebarkan artikel ini
Perjuangan Ayah Gendong Anak Seberangi Sungai Deras Demi Sekolah di Ponorogo

Perjuangan Anak Sekolah di Ponorogo Menantang Arus Sungai

Kaki-kaki kecil itu tak pernah menyentuh tanah saat melintasi batas desa menuju sekolah. Di atas pundak kokoh sang ayah, mereka berpegangan erat sambil menatap riak air sungai yang kecokelatan. Itulah potret keseharian yang menyayat hati di salah satu pelosok Kabupaten Ponorogo pada awal tahun 2026.

Baca Juga: Empat Bocah Bersaudara Meninggal Dunia Akibat Tragedi Sungai Jambon Ponorogo Memilukan

Di saat dunia luar membicarakan transformasi digital dan transportasi modern, warga di sini masih harus bergulat dengan alam, mempertaruhkan keselamatan hanya untuk menyeberangi sungai yang memisahkan rumah dengan masa depan.

Setiap pagi, suasana di pinggir sungai itu selalu dipenuhi rasa waswas. Para orang tua harus memastikan seragam putih-merah dan putih-biru yang dikenakan buah hati mereka tetap kering dan bersih.

Baca Juga: 3 Fakta Viral WNA Italia di Ponorogo yang Disebut Menikah Ternyata Hanya Ikrar Mualaf di KUA Ngrayun

Tak ada pilihan lain selain menggendong mereka, menapak satu demi satu batu licin di dasar sungai yang arusnya seringkali tak terduga. Sebuah terpeleset kecil saja bisa berakibat fatal, namun keinginan agar anak-anak mereka tidak putus sekolah mengalahkan rasa takut yang menghantui setiap hari.

Kisah pilu ini semakin memuncak saat musim penghujan tiba. Debit air yang meningkat drastis mengubah sungai tersebut menjadi jeram yang mengancam nyawa. Jika sudah begitu, pendidikan pun harus mengalah. Anak-anak terpaksa berdiam diri di rumah, menatap rintik hujan dengan perasaan cemas karena tidak bisa mengikuti pelajaran.

Isolasi fisik ini bukan sekadar soal jarak, melainkan soal hilangnya kesempatan bagi generasi muda di desa tersebut untuk bersaing secara adil dengan mereka yang hidup di wilayah dengan infrastruktur memadai.

Warga setempat menuturkan bahwa impian mereka sebenarnya sangat sederhana. Mereka tidak meminta jalan tol atau gedung pencakar langit, melainkan hanya sebuah jembatan permanen yang bisa dilalui dengan aman. Ketiadaan akses ini juga memutus urat nadi ekonomi; hasil kebun sulit dipasarkan, dan akses kesehatan bagi ibu hamil atau lansia menjadi misi yang berbahaya. Kehidupan seolah berhenti di tepi sungai setiap kali mendung menggantung di langit Ponorogo.

Ironi di tahun 2026 ini menunjukkan bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak bisa hanya diukur dari pembangunan di pusat kota. Ketika seorang anak harus mengawali harinya dengan ketakutan terseret arus sungai, di situlah letak kegagalan pemerataan pembangunan yang perlu segera dibenahi.

Suara gemericik air sungai yang biasanya menenangkan, bagi warga desa ini adalah pengingat akan janji-janji pembangunan yang belum kunjung menepi ke desa mereka.

Keberanian para orang tua dan keteguhan hati anak-anak sekolah ini adalah pesan kuat bagi para pemangku kebijakan. Mereka adalah pejuang pendidikan yang nyata, yang setiap hari bertaruh nyawa demi sebuah ijazah dan pengetahuan.

Harapannya, di sisa tahun 2026 ini, tidak ada lagi ayah yang harus menggulung celananya dalam-dalam dan menggendong anaknya menerjang bahaya. Jembatan yang didambakan bukan sekadar konstruksi beton, melainkan jembatan harapan bagi masa depan yang lebih bermartabat.