Penggunaan Teknologi Kecerdasan Buatan (AI) telah menjadi bagian dari strategi perang Amerika Serikat (AS). AI digunakan untuk mengidentifikasi target potensial di medan perang. Ini merupakan hasil dari Project Maven, sebuah kolaborasi antara Pentagon dan Google.
Meskipun Google telah mundur dari kerja sama tersebut karena tekanan internal, AS masih menggunakan teknologi AI untuk kepentingan militer di Timur Tengah.
Baca Juga: Telkom Buka IndigoSpace Bali: Pusat Startup Terbaru yang Revolusioner!
Meskipun demikian, penggunaan teknologi ini tetap melibatkan pengawasan manusia. Seorang pejabat tinggi militer AS, Schuyler Moore, menjelaskan bahwa teknologi AI digunakan untuk mengidentifikasi target menggunakan data dari drone atau satelit.
Namun, keputusan untuk menyerang dan senjata yang digunakan tetap merupakan hasil dari pertimbangan manusia.
Baca Juga: Wujud Kepedulian Sosial, KAI Daop 7 Madiun Sepanjang Tahun 2025 Salurkan Dana Sosial Rp 778 Juta
Meski terdapat kritik terhadap penggunaan teknologi ini, terutama dari karyawan Google, namun teknologi AI terbukti efektif dalam mengidentifikasi target dan memfasilitasi operasi militer AS di Timur Tengah.