MEMO
Obat Berbahan Alami kian Berkembang di Indonesia, Sumber Alam Melimpah. Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan dan Kosmetik Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Reri Indriani berharap obat berbahan alam kian berkembang di Indonesia mengingat sumber daya alam yang melimpah.
“Potensi ini perlu terus dimanfaatkan untuk dikembangkan, diproduksi menjadi obat berbahan alam,” kata Reri di Jakarta, Kamis.
Baca Juga: Tanaman Ajaib Ini Bikin Wangi dan Usir Serangga Indonesia Jagoannya
Obat berbahan alam berpotensi berkembang di tengah pergeseran gaya hidup masyarakat yang selama pandemi mulai condong
mencari produk dengan bahan-bahan alami.
Ia mengatakan pelaku usaha seharusnya bisa melihat peluang dan bisa konsisten menciptakan produk-produk berkualitas agar masyarakat semakin percaya terhadap obat dari bahan alam.
Baca Juga: Indonesia Panen Raya! Surplus Beras 3 Juta Ton, Negara Lain Gigit Jari
Indonesia adalah salah satu negara yang disebut megabiodiversitas yang punya keanekaragaman hayati besar di dunia. Namun, dia menyayangkan seperempat bahan baku alam masih diimpor sebagian meski sumber dayanya mencukupi.
“75 persen yang dari pasokan lokal masih ada keterbatasan, baik dari jumlah kuantitas, kualitas, dan keberlanjutan,” ujar dia.
Mutu panen bahan alam dari petani lokal, kata dia, kerap masih dipengaruhi berbagai hal seperti musim, cara memanen, usia panen hingga tempat menanam.
“Ini yang harus diintervensi bersama dari hulu ke hilir,” katanya.
BPOM mendorong pemanfaatan komponen produk bersumber dari sumber daya alam lokal di dalam negeri yang diharapkan
memberikan multiplier effect dari hulu ke hilir. Mulai dari budidaya tanaman, peningkatan kapasitas petani, pengembangan industri ekstrak bahan alam, dan tentunya berdampak pada penyerapan tenaga kerja.
“Kami berharap ke depan semakin banyak pengembangan dan produksi obat bahan alam inovatif untuk mendukung kemandirian
dan kedaulatan kesehatan bangsa Indonesia dan selanjutnya mampu go international,” jelas Reri.
Mengembangkan potensi alam bangsa Indonesia membutuhkan kerjasama lintas sektor, imbuh dia.
Ia mengatakan BPOM sebagai otoritas pengawasan obat dan makanan berkomitmen secara konsisten mendukung riset obat
bahan alam dengan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek).
“BPOM melakukan pengawalan riset dengan memberikan pendampingan bagi para peneliti dan pelaku usaha terkait pemahaman
terhadap regulasi,” katanya.
Lebih lanjut, Reri juga menyampaikan bahwa BPOM juga lebih proaktif menjangkau stakeholders, menerapkan agility, serta me-review regulasi guna mendukung pengembangan hingga komersialisasi produk dengan tetap mengedepankan pemenuhan terhadap standard keamanan, manfaat, dan mutu.
Transformasi riset akan mendukung program BPOM dalam mewujudkan Kemandirian Nasional dalam Penyediaan Bahan Baku
Obat Bahan Alam sebagai Upaya Peningkatan Mutu dan Daya Saing Produk Obat Tradisional.
Program ini dimaksudkan untuk memberi solusi holistik dalam rangka percepatan pengembangan obat bahan alam melalui
sinergi dengan seluruh pemangku kepentingan dalam bentuk sinergisme Penta Helix (ABCGM).












