Dikenal sebagai figur dermawan dan toleran, Tony menegaskan bahwa kegiatan berbagi ini telah menjadi tradisi keluarganya dari tahun ke tahun. Ia menolak sekat agama, golongan, maupun latar belakang sosial.
“Kami tidak pernah melihat perbedaan. Sebagai manusia, kita punya tanggung jawab moral untuk saling menolong. Saya percaya toleransi dan kepedulian inilah yang menjadi kekuatan bangsa Indonesia,” tegasnya.
Baca Juga: Gus Tamim Gaungkan Ketahanan Pangan Keluarga Lewat Greenhouse Skala Kecil
Tak berhenti pada momen Natal, Tony Andreas selama ini juga dikenal aktif membantu berbagai kegiatan sosial lintas komunitas, termasuk mendukung pondok pesantren dan kegiatan keagamaan lainnya di Blitar. Sikap inklusif ini membuatnya diterima luas di tengah masyarakat yang majemuk.
Tony berharap kegiatan sederhana namun konsisten ini dapat menginspirasi lebih banyak pihak. Menurutnya, Natal sejatinya adalah panggilan untuk berbagi, bukan sekadar merayakan.
Baca Juga: Sidak TKP2OM di Blitar Kota, Kapolres Pastikan Keamanan Produk untuk Masyarakat
“Natal bukan hanya tentang perayaan, tapi tentang bagaimana kita menghadirkan kebahagiaan dan kasih bagi mereka yang membutuhkan. Kalau semua mau peduli, saya yakin kedamaian itu nyata, bukan sekadar slogan,” pungkasnya.
Kegiatan berbagi yang dilakukan Tony Andreas tahun ini kembali menegaskan satu pesan penting: di tengah perbedaan, kasih sayang dan solidaritas tetap menjadi jembatan persatuan. Natal di Kanigoro bukan sekadar peristiwa tahunan, melainkan potret kecil Indonesia yang rukun, peduli, dan penuh harapan.**












