Jakarta, Memo . Misteri ‘Sri Rezeki Hastomo’ di Sidang Hasto. Sidang lanjutan kasus dugaan merintangi penyidikan Harun Masiku dengan terdakwa Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menghadirkan kejutan. Nama ‘Sri Rezeki Hastomo’ berulang kali mencuat dalam persidangan dengan saksi kunci, staf sekretariat PDIP bernama Kusnadi. Jaksa penuntut umum bahkan menampilkan bukti percakapan dari nomor dengan nama misterius tersebut.
Dalam persidangan yang digelar hari ini, terungkap bahwa nomor ‘Sri Rezeki Hastomo’ aktif berkomunikasi dengan Kusnadi, termasuk mengirimkan berkas panggilan KPK untuk Hasto terkait kasus Harun Masiku. Namun, ketika jaksa mencecar soal identitas pemilik nomor tersebut, jawaban Kusnadi justru menimbulkan tanda tanya besar.
Baca Juga: Sembunyian Aib, Camat Banyakan Hari Utomo Serahkan Uang Suap ke Kejaksaan
“Kalau yang nama Sri Rezeki Hastomo itu nomor siapa?” tanya Jaksa.
“Nomor Kesekretariatan,” jawab Kusnadi.
Baca Juga: Menteri Imigrasi Diminta Pimpin Investigasi Dugaan Kekerasan Oknum Petugas Lapas Kediri
“Yang pegang siapa?” kejar Jaksa.
“Yang pegang kadang-kadang staf-stafnya. Kadang kalau Bapak keluar bisa di Satgas,” jawab Kusnadi.
“Siapa yang pegang?” tegas Jaksa.
“Banyak kalau yang ikut pas ditugasin,” jawab Kusnadi, memberikan jawaban yang terkesan menghindar.
Puncak keanehan terjadi ketika Kusnadi mengakui bahwa nama ‘Sri Rezeki Hastomo’ hanyalah karangannya semata. Ia bahkan menyebut nama itu tidak ada sangkut pautnya dengan Hasto Kristiyanto.
“Saya terinspirasi Sri Rezekinya saja. Biar dapat rezeki,” jelas Kusnadi dengan polos.
“Kalau Hastomonya apa?” tanya Jaksa penasaran.
“Tambahan saya saja,” jawab Kusnadi.
“Apa mengacu pada Hasto?” tanya Jaksa memastikan.
“Enggak,” jawab Kusnadi singkat.
Salah satu percakapan dalam tangkapan layar chat dari nomor ‘Sri Rezeki Hastomo’ yang menjadi sorotan jaksa adalah pesan singkat berbunyi “di hp ini saja”. Jaksa pun mempertanyakan maksud dari pesan misterius tersebut kepada Kusnadi.
“Kok, tiba-tiba muncul bahasa ‘hp ini saja’, suruh ngapain, mau diapain kok tiba-tiba muncul ‘hp ini saja’?” tanya Jaksa dengan nada curiga.
“Buat komunikasi, hp ini saja komunikasinya,” jawab Kusnadi, terkesan memberikan jawaban yang ambigu.
Dalam percakapan dengan nomor fiktif ‘Sri Rezeki Hastomo’ itu, terungkap pula bahwa Kusnadi kerap menggunakan kata ‘Bapak’. Namun, lagi-lagi, ‘Bapak’ yang dimaksud Kusnadi bukanlah Hasto, melainkan seorang staf di kesekretariatan bernama Adi.
“Sebelum Saudara mendampingi Pak Hasto melakukan pemeriksaan di KPK. Di situ Saudara sampaikan ‘siap Bapak’. Nah, ini yang Saudara maksudkan ‘Bapak’ ini siapa?” tanya Jaksa.
“Kesekretariatan,” jawab Kusnadi.
“Siapa namanya?” tanya Jaksa lagi.
“Pak Adi,” jawab Kusnadi.
“Kalau Saudara manggil Pak Hasto apa?” tanya Jaksa.
“Pak,” timpal Kusnadi.
“Bukan Bapak?” tanya Jaksa lagi.
“Enggak,” ucap Kusnadi.
“Kalau ke Adi malah Bapak, Hasto malah Pak. Enggak kebalik itu,” sindir Jaksa.
“Pak Hasto, gitu,” ujar Kusnadi mencoba mengklarifikasi.
Tak hanya itu, jaksa juga mengkonfirmasi beberapa pesan lain dari kontak ‘Sri Rezeki Hastomo’ yang tak kalah membingungkan, termasuk pesan “yang itu ditenggelamkan saja” dan “tidak usah memikirkan sayang”.
Menariknya, Kusnadi menjelaskan bahwa pesan “ditenggelamkan saja” itu merujuk pada kegiatannya melarung pakaian, sebuah tradisi Jawa untuk membuang sial atau mengharapkan berkah.
“Tadi kan di atas bahasanya mengenai ‘hp ini saja yang dipakai’, kemudian ada respons ‘oke, thanks’. Kemudian tiba-tiba Saudara menyebutkan ‘larung’. Nyambung enggak itu?” tanya jaksa heran.
“Nyambung-lah, Pak,” jawab Kusnadi.
“Jadi, si Kesekretariatan bilang, ditenggelamkan itu pakaian saya yang kemarin habis larung, ditenggelamkan saja,” sambungnya dengan nada meyakinkan.
Jaksa pun tak habis pikir dengan jawaban Kusnadi, menilai tidak ada korelasi antara kegiatan DPP PDIP dengan ritual melarung pakaian. Namun, Kusnadi bersikukuh bahwa kegiatan melarung sering dilakukan di PDIP atas permintaan kader yang memiliki harapan tertentu.
“Pak, kalau PDIP itu, sering Pak, kegiatan larung Pak, kader yang biasa minta doa,” kata Kusnadi.
“Oh gitu, kader minta doa?” tanya Jaksa.
“Iya, Pak. Biar jadi anggota DPR, jadi bupati, sering ngelarung,” timpal Kusnadi.
“Oh gitu, terus Saudara mau jadi apa, kok minta baju Saudara dilarung?” tanya Jaksa lagi.
“Pengin ikut rejekinya, Pak,” jawab Kusnadi dengan polos.
Dalam dakwaan yang menjeratnya, Hasto Kristiyanto didakwa menyuap komisioner KPU RI terkait proses Pergantian Antarwaktu (PAW) dan secara sengaja merintangi penyidikan kasus buronan Harun Masiku. Salah satu poin penting dalam dakwaan adalah perintah Hasto kepada Harun Masiku melalui Nurhasan untuk merendam telepon genggamnya ke dalam air setelah Wahyu Setiawan (saat itu Komisioner KPU) terjaring Operasi Tangkap Tangan (OTT) terkait dugaan suap dari Harun.
Selain itu, Hasto juga diduga memerintahkan Kusnadi untuk menenggelamkan telepon genggamnya sebagai langkah antisipasi upaya paksa dari penyidik KPK. Misteri di balik nama ‘Sri Rezeki Hastomo’ dan pesan-pesan aneh yang terungkap dalam persidangan ini tentu semakin menambah teka-teki dalam kasus yang menyeret nama besar Sekjen PDIP tersebut. Publik pun menanti perkembangan lebih lanjut untuk mengungkap kebenaran di balik tabir persidangan ini.












