Pernyataan kontroversial Eto muncul tak lama setelah Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan mengumumkan pelepasan stok beras darurat hingga Juli, sebagai upaya menstabilkan harga pasar yang telah melonjak dua kali lipat dibandingkan tahun lalu.
Dampak pada Citra Pemerintah dan Kans Koizumi
Eto, yang dikenal sebagai salah satu pakar kebijakan pertanian terkemuka di partai yang berkuasa dan pernah menjabat menteri pertanian di era Perdana Menteri Shinzo Abe, kini menjadi pusat perhatian. Komentarnya pada acara penggalangan dana partai pekan lalu, yang terkesan meremehkan kesulitan rakyat, memicu kemarahan. Ia mengklaim tidak membeli beras karena “stok di rumah saya sudah cukup untuk dijual” berkat pasokan dari pendukung.
Baca Juga: Komandan Pasukan Quds Iran, Esmail Qaani, Muncul Hidup di Tengah Klaim Kemenangan atas Israel
Meskipun Eto berusaha mengklarifikasi bahwa itu hanya lelucon, ia mengakui telah “melampaui batas.” Ini memicu pertanyaan dari anggota parlemen oposisi tentang kelayakannya. Partai-partai oposisi utama Jepang pada Selasa bahkan bersepakat untuk mendesak pengunduran diri Eto dan mengancam mosi tidak percaya. Kritik juga datang dari internal koalisi pemerintahan yang melihat pengunduran dirinya sebagai keniscayaan.
Situasi ini semakin memperburuk citra pemerintah di mata publik, terutama setelah jajak pendapat Kyodo News menunjukkan tingkat kepuasan terhadap Ishiba berada pada titik terendah sejak ia menjabat Oktober lalu. Ini memperlihatkan kesulitan pemerintah dalam memulihkan kepercayaan publik yang telah terguncang oleh serangkaian skandal dana politik di tubuh LDP. Di sisi lain, Koizumi, yang kemungkinan besar akan mengisi posisi menteri pertanian, tetap menjadi salah satu figur politik favorit publik yang digadang-gadang akan memimpin Jepang di masa mendatang. Krisis Harga Beras Jepang, Pengunduran Diri Menteri Jepang, Politik Jepang Terkini
Baca Juga: Misteri Jet Latih Jepang Raib Usai Tinggal Landas, Seluruh Armada Dikandangkan












