Purbaya menegaskan bahwa integritas pribadinya adalah perisai terkuat dalam menghadapi segala bentuk intimidasi maupun potensi jeratan hukum. Dengan nada santai namun tegas, ia memastikan tidak ada celah bagi pihak luar untuk menjatuhkannya selama ia tetap menjaga kebersihan dari praktik gratifikasi dan suap.
Perseteruan narasi antara Purbaya Yudhi Sadewa dan Imanuel Ebenezer memanas setelah Noel melontarkan klaim adanya informasi “A1” yang menyebut Purbaya akan segera “di-Noel-kan” atau terseret kasus hukum di KPK. Pernyataan ini disampaikan Noel di sela-sela proses hukum yang sedang ia jalani, dengan alasan bahwa kebijakan Purbaya telah mengusik kenyamanan para mafia yang selama ini berpesta di sektor pasar gelap dan impor ilegal.
Baca Juga: Otoritas Pajak Bidik Sepuluh Korporasi Sawit Kakap Terkait Indikasi Manipulasi Setoran Negara
Menanggapi hal tersebut, Purbaya menyatakan tidak ambil pusing dengan peringatan yang disampaikan Noel. Ia justru mempertanyakan motif di balik pernyataan tersebut dan secara implisit membandingkan kondisi integritasnya dengan kasus yang menjerat sang mantan Wamenaker.
Purbaya menegaskan bahwa gaji dan kompensasi yang ia terima sebagai pejabat negara sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, sehingga tidak ada alasan baginya untuk mencari tambahan uang haram.
Baca Juga: Imanuel Ebenezer Peringatkan Potensi Kriminalisasi Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa Oleh Mafia
“Saya tidak tahu dasar pernyataan tersebut, mungkin yang bersangkutan sedang tidak senang dengan saya. Namun, selama saya bersih dan tidak menerima uang di luar hak resmi saya, kemungkinan terseret kasus hukum sangatlah kecil,” ujar Purbaya saat ditemui di Kompleks Kementerian Keuangan.
Lebih lanjut, Purbaya menjelaskan logika sederhana dalam menjaga posisi dari serangan lawan politik maupun hukum. Menurutnya, seorang pejabat publik hanya akan menjadi rentan jika mereka mulai berkompromi dengan menerima suap. Sekali seorang pejabat menerima dana ilegal, mereka kehilangan taring untuk melakukan pembersihan internal karena posisinya dapat dengan mudah “disandera” melalui bocoran informasi atau laporan ke penegak hukum.
Purbaya juga meyakini bahwa riak-riak ancaman ini muncul sebagai konsekuensi dari reformasi besar-besaran yang tengah ia dorong di tubuh Direktorat Jenderal Pajak serta Bea dan Cukai. Tindakan tegas terhadap penyelundupan pakaian bekas, mesin ilegal, hingga penertiban pajak di pasar-pasar gelap memang berpotensi menciptakan musuh dari kalangan pemain besar yang selama ini merugikan negara.
Meskipun menyadari risiko adanya upaya penjebakan—seperti penanaman barang bukti di area pribadi—Purbaya tetap optimis bahwa kebenaran akan tetap berpihak pada mereka yang berjalan lurus. Ia menegaskan tanggung jawabnya hanya tertuju pada Presiden dan rakyat Indonesia, bukan pada opini pihak-pihak yang sedang bermasalah dengan hukum.
Sikap tenang Purbaya Yudhi Sadewa ini menunjukkan kepercayaan diri seorang teknokrat dalam menghadapi tekanan politik dan hukum. Meski bayang-bayang ancaman kriminalisasi kerap menghantui pejabat yang vokal melakukan perubahan, Purbaya memilih untuk tetap fokus pada agenda pembersihan instansinya dan membuktikan bahwa integritas adalah modal utama dalam mengelola keuangan negara.












