MEMO, Cirebon: Apakah Anda pernah mendengar kabar bahwa cuaca dingin belakangan ini di Indonesia disebabkan oleh fenomena Aphelion? Kabar ini telah menyebar di media sosial dan membuat banyak orang merasa khawatir.
Namun, sebenarnya cuaca dingin di Indonesia pada bulan Juli tidak terkait dengan Aphelion.
Baca Juga: Arus Balik Libur Nataru 2025/2026, Berikut Beberapa Stasiun KA Yang Jadi Favorit Penumpang
Artikel ini akan menjelaskan secara ilmiah dan faktual mengenai fenomena cuaca dingin di Indonesia dan apa yang sebenarnya mempengaruhinya.
Musim Dingin Australia dan Pengaruhnya terhadap Cuaca di Indonesia
Beredar kabar di media sosial bahwa cuaca dingin di Indonesia belakangan ini disebabkan oleh jarak Bumi dengan Matahari yang terjauh dalam periode revolusi, atau yang disebut Aphelion.
Baca Juga: Rangkaian Musda VII LDII Kota Kediri tahun 2025, Upayakan Peningkatan Kapasitas Pemuda
Kabar ini telah menyebar dengan cepat dan membuat masyarakat khawatir. Sebenarnya, Aphelion adalah fenomena astronomi yang terjadi setiap tahun sekitar bulan Juli.
Peran Pola Angin Timur-Tenggara dalam Membawa Udara Dingin ke Indonesia
Namun, kondisi cuaca dingin yang terjadi di Indonesia pada bulan Juli tidak terkait dengan fenomena Aphelion.
Meskipun Matahari berada pada posisi terjauh dari Bumi saat Aphelion, hal itu tidak berpengaruh signifikan pada cuaca atau fenomena atmosfer di Bumi.
Cuaca dingin sebenarnya merupakan fenomena alam yang umum terjadi pada bulan-bulan puncak musim kemarau, yaitu antara bulan Juli hingga September.
Saat ini, wilayah Indonesia, terutama Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur, sedang mengalami musim kemarau. Pada periode ini, angin bergerak dari arah timur-tenggara, yaitu dari Benua Australia.
Pada bulan Juli, Australia sedang mengalami musim dingin. Pola tekanan udara yang tinggi di Australia menyebabkan massa udara bergerak dari Australia ke Indonesia melalui perairan Samudra Indonesia yang memiliki suhu permukaan laut yang relatif lebih dingin.
Hal ini menyebabkan suhu di beberapa wilayah Indonesia, terutama di bagian selatan khatulistiwa seperti Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, terasa lebih dingin.
Selain angin dari Australia, kurangnya awan dan hujan di Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara juga berpengaruh terhadap suhu yang dingin di malam hari. Kehilangan uap air dan air menyebabkan energi radiasi yang dilepaskan oleh Bumi pada malam hari tidak terperangkap di atmosfer.
Selain itu, langit yang relatif cerah juga menyebabkan panas radiasi balik gelombang panjang langsung dilepaskan ke atmosfer luar, sehingga udara di dekat permukaan terasa lebih dingin, terutama pada malam hingga pagi hari. Inilah yang menyebabkan udara terasa lebih dingin, terutama pada malam hari.
Fenomena ini adalah hal yang biasa terjadi setiap tahun, dan bahkan dapat menyebabkan beberapa tempat seperti Dieng dan dataran tinggi atau wilayah pegunungan lainnya berpotensi mengalami embun es (embun upas) yang kadang-kadang disalahartikan sebagai salju oleh beberapa orang.
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa cuaca dingin di Indonesia pada bulan Juli bukanlah akibat dari Aphelion, seperti yang banyak dipercayai oleh masyarakat.
Fenomena cuaca dingin tersebut lebih berkaitan dengan musim kemarau dan pengaruh angin dari Australia yang membawa massa udara dingin.
Kurangnya awan dan hujan juga berkontribusi terhadap suhu yang dingin, terutama di malam hari. Penting bagi kita untuk memahami faktor-faktor alamiah yang memengaruhi cuaca agar tidak terjebak dalam informasi yang tidak akurat.












