Tocheri menjelaskan bahwa suatu spesies dapat bertahan jika populasi mereka mencapai jumlah tertentu. Namun, jika hanya sedikit orang yang melihat manusia Flores, seperti yang dinyatakan oleh 30 warga lokal suku Lio, itu bukanlah cukup untuk bertahan hidup di tengah-tengah manusia modern.
Pendapat Tocheri juga didukung oleh Corey Bradshaw, seorang ilmuwan dari Universitas Flinders, yang menyatakan bahwa untuk menghindari kepunahan, sebuah spesies membutuhkan setidaknya 50 individu efektif, yang setara dengan populasi antara 250 hingga 500 orang.
Baca Juga: Konsisten Dukung TNI/ Polri KAI Daop 7 Madiun Berikan Diskon Tarif Mudik
Kontroversi seputar keberadaan manusia Flores, dikenal sebagai Homo floresiensis, terus memicu perdebatan di kalangan para ahli antropologi. Meskipun beberapa sumber menyatakan bahwa makhluk ini masih hidup dan berkeliaran di Pulau Flores, pandangan ini disangsikan oleh beberapa peneliti terkemuka, seperti Matthew Tocheri dari Smithsonian Institution.
Tocheri menyatakan bahwa jumlah saksi yang melihat manusia Flores terlalu kecil untuk memastikan kelangsungan hidup mereka di era manusia modern. Hal ini juga diperkuat oleh pendapat Corey Bradshaw dari Universitas Flinders, yang menyatakan bahwa populasi minimum yang diperlukan untuk menghindari kepunahan adalah sekitar 50 individu efektif, atau setara dengan 250 hingga 500 orang.
Baca Juga: H+2 Lebaran 1447H/ 2026 M, Volume Penumpang di Wilayah Daop 7 Madiun Pecah Rekor Capai Puluhan Ribu
Dengan demikian, meskipun masih ada ketidakpastian, bukti yang ada menunjukkan bahwa kemungkinan besar manusia Flores telah punah.