Dalam konteks di mana Amerika Serikat sering kali diasosiasikan dengan dukungan terhadap Israel, Rusia dan Tiongkok muncul sebagai penyeimbang kekuatan yang mampu menyuarakan perspektif berbeda.
Dialog bilateral dengan Rusia diharapkan dapat membuka jalan bagi upaya-upaya diplomatik yang lebih efektif untuk meredakan krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.
Baca Juga: Bill Gates Suntik Dana Rp2,5 Triliun untuk Vaksin TBC & Malaria di RI, Prabowo Kawal Langsung!
Terakhir, Hikmahanto menyoroti posisi Indonesia dalam forum G7. Sebagai negara berkembang, Indonesia seringkali hanya diposisikan sebagai “pendengar” tanpa daya tawar yang signifikan dalam KTT G7.
Meskipun Kanada menjanjikan penerimaan sebagai tamu kehormatan, esensi partisipasi Indonesia mungkin terbatas pada menyerap perspektif negara-negara maju.
Baca Juga: Umi Sjarifah, Pemred Media Sudut Pandang Raih Anugerah INDOPOSCO atas Dedikasi Jurnalistik
Berbeda halnya dengan kunjungan ke Rusia, di mana Indonesia kemungkinan besar akan menjadi “tamu utama.” Status ini membuka pintu lebar bagi potensi kesepakatan bilateral yang lebih substansial dan menguntungkan bagi kedua negara, memperkuat posisi tawar Indonesia secara signifikan.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Ruliansyah (Roy) Soemirat, sebelumnya telah menjelaskan bahwa keputusan Presiden Prabowo didasarkan pada undangan yang datang lebih awal dari Presiden Putin.
Baca Juga: Operasi "Smash and Grab": Amerika Serikat Dilaporkan Tangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro
Undangan KTT G7 di Kanada bersamaan dengan agenda lain, termasuk undangan dari Singapura untuk menghadiri Anual Leaders Retreat. Dengan komitmen yang telah dibuat sebelumnya, pilihan Prabowo untuk memenuhi undangan Putin dan Singapura merupakan bentuk konsistensi dalam diplomasi Indonesia ( af )












