Keputusan Presiden Prabowo Subianto untuk mengalihkan fokus dari Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 di Kanada menuju pertemuan dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, menuai beragam analisis.
Namun, bagi Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, pilihan ini merupakan langkah yang tidak hanya tepat, tetapi juga menguntungkan posisi Indonesia di panggung global.
Baca Juga: Bill Gates Suntik Dana Rp2,5 Triliun untuk Vaksin TBC & Malaria di RI, Prabowo Kawal Langsung!
Hikmahanto menggarisbawahi setidaknya tiga pilar utama yang menopang penilaiannya. Pertama, kehadiran Prabowo di Rusia mengirimkan sinyal kuat mengenai posisi geopolitik Indonesia yang tidak condong pada satu blok kekuatan.
Jika Indonesia menghadiri KTT G7, yang didominasi negara-negara Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) atau negara-negara Barat, persepsi yang muncul adalah keberpihakan.
Sebaliknya, kunjungan ke Rusia mempertegas komitmen Indonesia terhadap kelompok BRICS (Brasil, Rusia, India, Tiongkok, dan Afrika Selatan), di mana Indonesia telah bergabung sebagai anggota BRICS Plus.
Ini menunjukkan keseriusan Indonesia dalam membangun kemitraan yang lebih berimbang dan inklusif di tengah dinamika global.
Baca Juga: Umi Sjarifah, Pemred Media Sudut Pandang Raih Anugerah INDOPOSCO atas Dedikasi Jurnalistik
Kedua, prioritas kemanusiaan menjadi faktor krusial. Bertemu langsung dengan pemimpin Rusia menawarkan peluang yang lebih besar untuk membahas isu krusial mengenai nasib rakyat Palestina di Gaza.
Dalam konteks di mana Amerika Serikat sering kali diasosiasikan dengan dukungan terhadap Israel, Rusia dan Tiongkok muncul sebagai penyeimbang kekuatan yang mampu menyuarakan perspektif berbeda.
Dialog bilateral dengan Rusia diharapkan dapat membuka jalan bagi upaya-upaya diplomatik yang lebih efektif untuk meredakan krisis kemanusiaan di wilayah tersebut.
Terakhir, Hikmahanto menyoroti posisi Indonesia dalam forum G7. Sebagai negara berkembang, Indonesia seringkali hanya diposisikan sebagai “pendengar” tanpa daya tawar yang signifikan dalam KTT G7.
Meskipun Kanada menjanjikan penerimaan sebagai tamu kehormatan, esensi partisipasi Indonesia mungkin terbatas pada menyerap perspektif negara-negara maju.
Berbeda halnya dengan kunjungan ke Rusia, di mana Indonesia kemungkinan besar akan menjadi “tamu utama.” Status ini membuka pintu lebar bagi potensi kesepakatan bilateral yang lebih substansial dan menguntungkan bagi kedua negara, memperkuat posisi tawar Indonesia secara signifikan.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Ruliansyah (Roy) Soemirat, sebelumnya telah menjelaskan bahwa keputusan Presiden Prabowo didasarkan pada undangan yang datang lebih awal dari Presiden Putin.
Undangan KTT G7 di Kanada bersamaan dengan agenda lain, termasuk undangan dari Singapura untuk menghadiri Anual Leaders Retreat. Dengan komitmen yang telah dibuat sebelumnya, pilihan Prabowo untuk memenuhi undangan Putin dan Singapura merupakan bentuk konsistensi dalam diplomasi Indonesia ( af )












