Example floating
Example floating
Home

Krisis Daya Beli Kelas Menengah: Apa yang Harus Diketahui?

Alfi Fida
×

Krisis Daya Beli Kelas Menengah: Apa yang Harus Diketahui?

Sebarkan artikel ini
Krisis Daya Beli Kelas Menengah: Apa yang Harus Diketahui?
Krisis Daya Beli Kelas Menengah: Apa yang Harus Diketahui?

Selain itu, kelas menengah juga menghadapi kesulitan dalam mencari pekerjaan. Dengan banyaknya otomatisasi di berbagai sektor, mereka merasa kurang percaya diri dalam mencari pekerjaan yang lebih baik.

“Ada kekhawatiran mengenai keberlangsungan pekerjaan mereka, sehingga mereka cenderung lebih berhati-hati dalam pengeluaran,” imbuhnya.

Baca Juga: Langkah Strategis Pemkab Magetan Dorong Sayur Lokal Masuk SPPG Siap Edukasi Petani Agar Sesuai PSAT BGN Demi Tingkatkan Ekonomi Daerah

Faktor-Faktor Penyebab Penurunan Daya Beli dan Implikasinya

Beberapa ekonom telah mencatat penurunan proporsi kelas menengah di Indonesia pasca pandemi Covid-19. Data dari Bank Mandiri menunjukkan bahwa pada tahun 2019, proporsi kelas menengah di Indonesia masih mencapai 21% dari total populasi. Namun, angka tersebut menurun menjadi 17% pada tahun 2023.

Seiring dengan penurunan jumlah kelas menengah, proporsi kelompok aspirasi kelas menengah (AMC) atau calon kelas menengah, serta kelas rentan, mengalami kenaikan. Pergeseran ini diduga disebabkan oleh banyaknya warga kelas menengah yang jatuh miskin akibat berbagai tantangan selama pandemi.

Baca Juga: Umi Sjarifah, Pemred Media Sudut Pandang Raih Anugerah INDOPOSCO atas Dedikasi Jurnalistik

Dalam kesempatan yang sama, asosiasi pengusaha mal nasional juga menunjukkan perhatian terhadap melemahnya kondisi ekonomi kelas menengah. Asosiasi Pengelola Pusat Perbelanjaan Indonesia (APPBI) meminta pemerintah untuk menunda dua kebijakan yang dianggap kontradiktif dengan upaya penguatan daya beli masyarakat.

Kedua kebijakan tersebut adalah penerapan PPN sebesar 12% yang direncanakan mulai berlaku pada 2025 dan program Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) yang akan mulai berlaku pada 2027.

Baca Juga: Kecelakaan Tragis di Lokasi Bencana Longsor, Dua Polisi Terhimpit Truk Militer

Ketua Umum APPBI, Alphonzus Widjaja, meyakini bahwa kedua kebijakan ini dapat berdampak negatif pada perekonomian Indonesia.

“Baik pengusaha maupun konsumen akan merasakan dampaknya. Kami meminta pemerintah untuk menghindari kebijakan yang berpotensi menurunkan daya beli masyarakat kelas menengah dan bawah,” tegas Alphonzus.

Penurunan Daya Beli Kelas Menengah dan Dampaknya pada Ekonomi Indonesia

Penurunan daya beli kelas menengah di Indonesia memicu kekhawatiran yang mendalam di kalangan pengusaha dan ekonom. Dengan proporsi kelas menengah yang menurun dari 21% pada 2019 menjadi 17% pada 2023, dampak terhadap konsumsi domestik dan ekonomi secara keseluruhan menjadi sangat signifikan. Kelas menengah, yang sebelumnya menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi, kini mengalami kesulitan ekonomi yang mendalam.