Example floating
Example floating
HumanioraKEDIRI RAYA

Kisah Mariana, Setia Meracik Kehangatan Tradisi di Tengah Himpitan Ekonomi dan Perubahan Selera

A. Daroini
×

Kisah Mariana, Setia Meracik Kehangatan Tradisi di Tengah Himpitan Ekonomi dan Perubahan Selera

Sebarkan artikel ini
Kisah Mariana, Setia Meracik Kehangatan Tradisi di Tengah Himpitan Ekonomi dan Perubahan Selera

Trenggalek, Memo-

Aroma manis dan gurih berpadu dengan kehangatan uap yang perlahan membubung, menyambut siapa saja yang melintas di pinggir Pasar Sore Trenggalek. Hanya beberapa langkah dari denyut jantung kota, Alun-Alun Trenggalek, semangkuk wedang angsle tersaji sederhana, menjadi penawar dingin dan teman setia bagi warga lokal yang mencari kehangatan di tengah cuaca yang tak menentu.

Baca Juga: Pasca Insiden Pengendara Sepeda Motor Tertemper KA Brantas di Perlintasan JPL 265 KM 172+762 Petak Jalan Kras–Ngadiluwih,PT KAI Daop 7 Madiun Ingatkan Rambu Tanda Dahulukan Laju KA

Di balik gerobak kecilnya yang telah menjadi saksi bisu perjalanan waktu, Mariana (45), seorang ibu sekaligus penjaja wedang angsle asal Desa Surondakan, dengan setia meracik minuman tradisional khas Jawa Timur ini sejak tahun 2004.

Tangannya cekatan menata isian angsle yang kaya rasa dan tekstur: potongan roti tawar lembut, gurihnya beras ketan yang kenyal, warna-warni pacar cina yang menggoda, hingga renyahnya taburan kacang goreng. Semua itu kemudian disiram dengan kuah santan yang manis dan gurih, menciptakan harmoni rasa yang menghangatkan hingga ke sumsum tulang.

Baca Juga: Rangkaian Musda VII LDII Kota Kediri tahun 2025, Upayakan Peningkatan Kapasitas Pemuda

Sambil tersenyum ramah melayani pembeli, Mariana berbagi cerita unik tentang perbedaan resep angsle di berbagai daerah. “Saya pernah dengar cerita dari keponakan, kalau wedang angsle di Malang itu malah pakai bawang goreng,” tuturnya, menunjukkan betapa beragamnya warisan kuliner Nusantara.

Mariana sendiri adalah generasi kedua penjual angsle. Ia melanjutkan usaha sang suami yang telah lebih dulu menjajakan kehangatan tradisional ini selama belasan tahun sebelum akhirnya ia mengambil alih. Meski telah puluhan tahun setia dengan angsle, Mariana tak menampik bahwa penjualan kini tak seramai era kejayaannya dulu.

Baca Juga: TMMD ke-127 Tak Hanya Bangun Infrastruktur, Pemkab Kediri Juga Bekali Warga Olahan Ikan Lele

“Dulu itu, satu kuali besar kuah angsle bisa ludes dalam semalam. Sekarang ini, setengah kuali saja, yang setara dengan 50 porsi, belum tentu habis,” ungkapnya dengan nada sedikit melankolis. “Kata suami saya dulu, kalau berjualan cukup bawa setengah kuali saja, biar kalau tidak habis tidak terlalu rugi dan bisa cepat pulang,” imbuhnya, menggambarkan perubahan drastis dalam minat pembeli.

Harga semangkuk wedang angsle racikan Mariana terbilang ramah di kantong, hanya Rp6.000 per porsi. Jauh berbeda dengan harga di kota-kota besar seperti Banyuwangi atau Surabaya yang bisa mencapai Rp10.000. Ia mulai menggelar dagangannya sejak pukul 09.00 pagi dan baru bisa pulang paling malam pukul 21.00 WIB, sebuah perjuangan demi sesuap nasi dan masa depan sang buah hati.

“Sekarang itu sering pulang malam karena memang susah habisnya. Tapi saya tetap rela berjualan, Mas, karena masih punya tanggungan anak yang baru masuk SMP,” pungkas Mariana, menyiratkan keteguhan hati seorang ibu yang tak gentar menghadapi perubahan zaman demi keluarga tercinta, sambil terus menjaga kehangatan tradisi wedang angsle di jantung kota Trenggalek.