Trenggalek, Memo.co.id – Senyapnya malam Senin itu tiba-tiba pecah oleh gemuruh air dan tanah. Di bawah selimut hujan yang tak berkesudahan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, terpaksa menelan pil pahit. Serangkaian Bencana Alam di Trenggalek, mulai dari banjir bandang hingga tanah longsor, telah menyebabkan kerugian jiwa dan material yang signifikan: satu nyawa anak melayang, enam lainnya masih dalam penantian, terperangkap di antara reruntuhan.
Hingga Rabu (21/5/2025) siang, suasana di Trenggalek masih diselimuti kecemasan. Jejak air bah terlihat jelas di lima kecamatan: Trenggalek, Munjungan, Pogalan, Karangan, dan Gandusari. Ketinggian air bervariasi, dari 30 sentimeter hingga satu meter, mengubah jalanan menjadi sungai dan rumah-rumah menjadi pulau-pulau kecil yang terisolasi.
Baca Juga: KAI Daop 7 Madiun Berikan Program “Silaturahmi” Diskon Hingga 20 Persen untuk Kelas Eksekutif
“Satu anak berusia enam tahun, berinisial MH, ditemukan meninggal dunia setelah terbawa arus banjir di Kecamatan Munjungan,” tutur Abdul Muhari, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, dengan nada prihatin. Di antara hiruk pikuk evakuasi dan pendataan, kabar duka ini menjadi pengingat pedih akan rentannya kehidupan di hadapan kekuatan alam.
Perjuangan di Tengah Arus dan Longsoran Tanah
Meskipun di beberapa titik seperti Kecamatan Trenggalek dan Munjungan air mulai memperlihatkan tanda-tanda surut, perjuangan belum berakhir.
Di Pogalan dan Karangan, genangan masih bertahan, membuat aktivitas warga lumpuh. Namun, yang paling mengkhawatirkan adalah kondisi di Desa Krandegan, Kecamatan Gandusari, di mana jebolnya tanggul sungai justru membuat ketinggian air semakin meninggi, seolah alam enggan memberi jeda.
Namun, duka Trenggalek tak hanya soal air. Di Desa Depok, Kecamatan Bendungan, bumi seolah tak lagi mampu menahan bebannya. Tanah Longsor di Trenggalek dahsyat menimbun tiga rumah warga, menyisakan kerisauan panjang bagi enam jiwa yang hingga kini masih berstatus hilang.
Baca Juga: Sembunyian Aib, Camat Banyakan Hari Utomo Serahkan Uang Suap ke Kejaksaan
Tim gabungan, terdiri dari berbagai elemen, terus berjibaku, menyisir setiap jengkal tanah, berharap menemukan tanda-tanda kehidupan. “Hingga Rabu ini, pencarian korban masih menjadi fokus utama petugas di lapangan,” tegas Abdul Muhari, menggambarkan betapa gentingnya situasi.
Puing-Puing dan Harapan yang Tersisa
Gambaran kerusakan material yang ditorehkan bencana ini juga tak kalah memilukan. BNPB melaporkan, setidaknya 11 rumah terdampak, dengan lima di antaranya rusak parah. Lima ruas jalan penting kini tertutup material longsor, memutus akses dan menyulitkan upaya bantuan. Satu tanggul jebol dan satu jembatan yang rusak menjadi simbol bisu keganasan alam.
Di tengah puing-puing dan genangan, posko darurat telah didirikan oleh BPBD Trenggalek di Kecamatan Trenggalek. Ini menjadi pusat koordinasi, tempat logistik disalurkan, dan para pengungsi menemukan sedikit kehangatan di tengah dinginnya musibah.
Sinergi antara pemerintah daerah, BNPB, dan berbagai relawan menjadi denyut nadi harapan, bahwa di balik duka yang melanda, ada kekuatan gotong royong yang tak akan padam. Penanganan Bencana Trenggalek kini menjadi prioritas utama, dengan harapan warga dapat segera bangkit dari keterpurukan ini.












