“Kami tidak berpendapat bahwa Bali mengalami overtourism. Jika melihat data kapasitas kamar yang tersedia, Bali masih mampu menampung kunjungan wisatawan. Hanya masalahnya terletak pada pengaturan lalu lintas agar tidak terjadi kemacetan,” ungkap Pemayun.
Overtourism dapat dianggap sebagai “overcrowding” atau keadaan di mana terlalu banyak wisatawan berkumpul di satu destinasi pariwisata, yang pada akhirnya dapat memengaruhi kualitas hidup masyarakat setempat.
Pemayun menegaskan bahwa Bali sebagai salah satu destinasi wisata populer harus selalu siap menyambut kedatangan wisatawan, terutama saat momen liburan panjang.
“Bali harus selalu siap, karena sebagai destinasi wisata dunia, Bali harus selalu siaga tanpa mengenal waktu. Bali harus selalu siap setiap saat, tak peduli acaranya apa. Namun saat ada hari khusus, Bali harus lebih siap lagi,” katanya.
Pemayun juga mengakui bahwa Dinas Pariwisata Provinsi Bali secara rutin memberikan imbauan kepada para pengelola destinasi wisata untuk selalu melakukan pengawasan terhadap fasilitas yang ada, bukan hanya saat libur Lebaran atau saat libur panjang.
“Pengelola destinasi wisata harus selalu siap dan melakukan pengawasan secara berkala untuk memastikan keamanan dan kenyamanan pengunjung,” tambahnya.
Bali Tidak Mengalami Overtourism Meskipun Kunjungan Wisatawan Meningkat Selama Liburan Lebaran
Meskipun demikian, Pemayun menekankan bahwa Bali harus selalu siap menyambut kedatangan wisatawan, terutama pada momen liburan panjang. Dinas Pariwisata Provinsi Bali secara rutin memberikan imbauan kepada para pengelola destinasi wisata untuk selalu melakukan pengawasan terhadap fasilitas yang ada, bukan hanya saat libur Lebaran atau saat libur panjang. Pengelola destinasi wisata diharapkan untuk selalu siap dan melakukan pengawasan secara berkala demi memastikan keamanan dan kenyamanan pengunjung.












