Deskripsi Banner
Deskripsi Banner
NGANJUK

Kenduri Cinta Di Acara Nyadran Desa Kepanjen Sarana Edukasi Dan Cipta Kondisi Lingkungan

Mulyadi Memo
×

Kenduri Cinta Di Acara Nyadran Desa Kepanjen Sarana Edukasi Dan Cipta Kondisi Lingkungan

Sebarkan artikel ini

NGANJUK, MEMO – Sesuai fakta sejarah, dari 18 desa di wilayah Kecamatan Pace, Nganjuk, Jawa Timur tercatat ada salah satu desa yang berhasil mengharumkan nama Kabupaten Nganjuk menjadi tersohor karena kontribusi kesenian tradisionalnya. Desa tersebut adalah Desa Kepanjen.

Kesenian tradisional yang lahir sejak 1910 di desa tersebut adalah kesenian ” Wayang Timplong “. Patut dibanggakan lagi hingga saat ini kesenian Jawa kuno tersebut tetap eksis dan masih diminati oleh kalangan generasi melinial.

Pendaftaran siswa baru
kuota terbatas, datang ke Jl KH Wahid Hasyim Tanjung Warujayeng

Selain mewariskan kesenian Wayang Timplong, sepertinya di Desa Kepanjen di bawah kepemimpinan Sugeng Purnomo tampaknya masih banyak ragam budaya atau tradisi lokal terus dilestarikan hingga saat ini.

Salah satunya adalah tradisi ” nyadran ” atau masyarakat awam menyebutnya dengan istilah bersih desa. Tradisi tersebut bisa dimaknai lahir tanpa akhir.Artinya sampai kapanpun tidak akan tergeser atau mengalami degradasi karena perubahan jaman.

” Tradisi ini sudah ada sejak berabad abad lamanya hingga sekarang masih utuh dan bisa dinikmati oleh para pewaris tradisi. Terbukti para generasi now sampai sekarang masih menguri uri kabuddayan Adi luhung ,” ucap Kades Kepanjen,Sugeng Purnomo.

Lurah Geng panggilan akrab laki laki bertubuh tinggi besar yang juga menjabat sebagai Ketua Persaudaraan Kepala Desa Indonesia ( PKDI) Cabang Nganjuk ini kepada wartawan memo.co.id membeberkan kenapa tradisi ini masih eksis tidak ditinggalkan oleh masyarakat ?. Jawabannya satu karena kekuatan cintanya terhadap budayanya sendiri sangat kuat.

” Ini bukti bahwa dari cinta akan melahirkan kerukunan dan persaudaraan yang tidak bisa ditukar dengan apapun. Cinta budaya sama halnya cinta leluhur dan bangsa,” ujar Lurah Geng lugas.