Example floating
Example floating
Peristiwa

Kementan Bidik Program Makan Bergizi Gratis Jadi Penyelamat Peternak

Avatar
×

Kementan Bidik Program Makan Bergizi Gratis Jadi Penyelamat Peternak

Sebarkan artikel ini

MEMO – Kementerian Pertanian (Kementan) mengambil langkah proaktif untuk memperkuat penyerapan dan menstabilkan harga telur ayam ras di tingkat peternak. Melalui kolaborasi lintas sektor yang solid, Kementan berupaya menjaga keseimbangan ekosistem perunggasan serta keberlanjutan usaha peternakan rakyat yang menjadi tulang punggung produksi telur nasional.

“Kementan terus mempererat sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan dalam rangka menjaga harmoni ekosistem perunggasan di Indonesia, terutama untuk komoditas telur ayam ras,” tegas Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Agung Suganda, saat melakukan kunjungan ke Rumah Kebersamaan Peternak Layer Mandiri di Blitar pada Sabtu.

Baca Juga: Tragedi Berdarah Bus Indorent Jakarta Malang Terguling di Tol Ngawi Pramugari Tewas dan 32 Penumpang Luka Akibat Kecelakaan Tunggal

Agung Suganda menyampaikan kabar membanggakan bahwa pada tahun 2025, Indonesia berhasil mencatatkan diri sebagai produsen telur terbesar ketiga di dunia, berada di belakang Tiongkok dan Jepang. Potensi produksi telur nasional mencapai angka fantastis, yakni 6,52 juta ton atau setara dengan 104,17 miliar butir.

Capaian gemilang ini merupakan cerminan dari semakin meningkatnya produktivitas peternak, yang didorong oleh perbaikan performa genetik ayam ras petelur (layer) serta pemanfaatan teknologi kandang tertutup (closed house).

Baca Juga: Waspada Kesehatan Kasus Leptospirosis Naik di Awal 2026 Musim Hujan Jadi Faktor Utama Penyebaran Bakteri Kencing Tikus di Jawa Timur

Selain itu, implementasi program-program unggulan seperti Ayam Merah Putih, yang mengembangkan klaster peternakan ayam di tingkat desa, juga turut berkontribusi dalam mendukung program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dengan kebutuhan nasional akan telur sebesar 6,22 juta ton, Indonesia memiliki potensi surplus yang signifikan, mencapai 295 ribu ton atau sekitar 4,5 persen. Surplus ini membuka peluang strategis untuk memperluas jangkauan program MBG, memperkuat peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) peternakan, serta meningkatkan pemerataan distribusi telur antarwilayah di Indonesia.

Baca Juga: Anak Bakar Rumah Orang Tua di Pati Akibat Ayah Bawa Selingkuhan ke Rumah

Agung Suganda menegaskan bahwa Kementan akan terus memantau dinamika pasar telur dengan pendekatan yang kolaboratif dan responsif terhadap setiap perubahan yang terjadi.

“Produksi telur nasional saat ini mengalami peningkatan yang luar biasa. Ini adalah potensi besar yang harus dikelola dengan baik agar dapat memberikan manfaat yang maksimal bagi para peternak dan seluruh masyarakat Indonesia,” ujar Agung, sebagaimana disampaikan dalam keterangan resmi di Jakarta pada Sabtu.

Namun, seiring dengan meningkatnya produksi telur, muncul pula tantangan tersendiri, terutama terkait fluktuasi harga pasca-Hari Raya Idul Fitri akibat penurunan permintaan yang diperkirakan mencapai sekitar 30 persen. Kondisi ini menyebabkan harga telur di tingkat peternak mengalami tekanan, terutama di sentra-sentra produksi utama.

Sebagai langkah cepat untuk mengatasi permasalahan ini, Kementan telah menerbitkan surat edaran tertanggal 11 April 2025 yang memperkuat pengawasan peredaran telur fertil dan infertil untuk konsumsi sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 10 Tahun 2024. Langkah ini diambil guna menjaga psikologis pasar terhadap potensi tekanan harga telur yang lebih dalam.

Selain itu, Kementan juga aktif mendorong intervensi dari perusahaan pakan ternak  untuk memberikan bantuan kepada peternak UMKM melalui berbagai skema dukungan. Tujuannya adalah agar peternak tidak melakukan penjualan panik ) ketika harga telur mengalami penurunan yang signifikan.