Example floating
Example floating
KEDIRI RAYA

Kelompok UKM Konveksi Lesu, Pemerintah Minim Perhatian

A. Daroini
×

Kelompok UKM Konveksi Lesu, Pemerintah Minim Perhatian

Sebarkan artikel ini

ukm-nganjuk-2

Pengusaha kecil dibidang usaha konveksi di Dusun Sukorejo Desa Kemaduh Kecamatan Baron semakin terpuruk. Serapan produk semakin merosot, Sementara perhatian pemerintah setempat sangat minim. Sehingga dalam waktu tidak panjang dimungkinkan banyak pengusaha kecil akan gulung tikar. Dampaknya angka pengagguran semakin bertambah. MULYADI

Baca Juga: Menteri Imigrasi Diminta Pimpin Investigasi Dugaan Kekerasan Oknum Petugas Lapas Kediri

ukm-nganjuk-1
NGANJUK , MEMO.CO.ID –

Kelompok pelaku Usaha Kecil dan Menengah ( UKM ) di Kabupaten Nganjuk terhitung sejak semester kedua tahun ini rata rata mengalami penurunan serapan produk pada titik paling rawan.Kalau sampai akhir tahun ini tidak ada perubahan yang signifikan maka akibat terburuk bisa terancam gulung tikar.

Baca Juga: Dugaan Penganiayaan Mantan Napi Lapas Kelas IIA Kediri Resmi Dilaporkan ke Polda Jatim

Seperti yang dialami oleh kelompok usaha konveksi ( garmen ) berskala kecil disejumlah tempat di Kabupaten Nganjuk hingga saat ini layaknya mati suri. Itu artinya mereka para pelaku usaha sudah tidak mampu lagi untuk mengembangkan usahanya seperti yang diharapkan. ” Tidak ada pilihan lain kecuali hanya bertahan hidup,” terang Amanu salah satu pemilik usaha konveksi asal Dusun Sukorejo Desa Kemaduh Kecamatan Baron.

Ditanya faktor penyebab utama lesunya usaha konveksi dikatakan bapak beranak dua ini karena minimnya perhatian dari pemerintah setempat dalam rangka memberikan pembinaan dan pemberian pinjaman modal serta bantuan alat konveksi kepada pemilik usaha. Diakui oleh Amanu , selama dia menggeluti usahanya sejak tahun 2002 itu belum pernah sekalipun mendapatkan pembinaan dari Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi setempat. Lebih lebih menerima bantuan berupa alat konveksi sampai sekarang tidak pernah ada.Termasuk pemberian modal pinjaman dari program UKM secara berkelanjutan tidak pernah terwujud.

Baca Juga: Dua Kades di Kediri Nyaris Bentrok, Dituding Bawa Uang Suap Perangkat Desa, Kades Jabon Febriyanto Emosi

Dalam kurun waktu 14 tahun bergelut dibidang usaha konveksi ini masih dikatakan dia hanya sekali pernah mendapatkan bantuan modal pinjaman dari UKM itupun nilai pinjamanya sangat kecil yaitu sekitar Rp 6 juta. Dengan nilai modal pinjaman itu menurutnya hanya cukup untuk belanja kain saja. Sedangkan untuk modal pembelian alat konveksi dengan terpaksa masih mencari pinjaman di bank dengan nilai bunga tinggi.

Harapan dia lebih lanjut dikatakan dia semestinya pemerintah daerah melalui dinas teknis terus inten mensosialisasikan program pemberdayaan usaha kecil menengah dikalangan masyarakat luas khususnya kelompok pemilik usaha. Karena bagaimanapun itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah dalam rangka membuka lapangan pekerjaan selebar lebarnya dengan begitu akan berdampak positif mengurangi angka penggangguran di Kabupaten Nganjuk.

Diakuinya, jumlah karyawan yang bekerja sebagai tukang sablon dan penjahit setiap harinya tidak kurang dari 15 orang. Seluruh pekerja diprioritaskan warga setempat terdiri dari kelompok ibu rumah tangga dan pemuda. ” Dengan ikut sertanya pelaku usaha kecil mengurangi angka penggangguran seperti ini , semestinya perhatian pemerintah sangat dibutuhkan.Minimal memberikan jalan keluar bagaimana kelompok usaha kecil tetap bisa eksis dan bisa menyerap tenaga kerja lebih banyak,” pungkasnya.

Sementara itu dikatakan Karyo Sulistyono salah satu anggota DPRD Nganjuk menanggapi persoalan terpuruknya usaha kecil menengah di Kabupaten Nganjuk ada faktor ‘ X ‘ yang masih sulit diurai. Menurut kaca mata dewan , dengan lesunya serapan produk konveksi berskala kecil karena ada rentetanya dengan campur tangan pejabat dalam menggendalikan konsumen terutama yang ada di lembaga pemerintah seperti sekolahan. Oknum pejabat tersebut mengeluarkan rekomendasi kepada pengusaha besar yang ditunjuk sebagai suplayer tunggal melayani pesanan seragam sekolah. ” Persaingan ini jelas tidak sehat. Sangat disayangkan lagi kenapa harus melibatkan campur tangan pejabt ini bukan porsinya. Kalau ini tidak bisa dihentikan maka yang menjadi korban adalah kelompok usaha gurem lambat laun akan gulung tikar,” tegasnya.( adi )